Makam Belanda, Kebun Raya Bogor

makambel4

Ps: tulisan ini hanya diubah sedikit dari artikel yang saya upload di detikTravel.

Minggu pagi, beberapa waktu lalu. Warga berbondong-bondong masuk dari berbagai pintu Kebun Raya Bogor. Saya, yang waktu itu masuk lewat Pintu 3, berada di tengah-tengah mereka.

Usai melewati Taman Astrid, Taman Meksiko, jembatan gantung, serta Pintu Utama dan Kebun Anggrek, tampak jalan setapak memasuki ladang bambu. Beberapa nisan putih tampak dari jalan utama.

Kawasan ini memang agak sepi dibanding spot-spot sebelumnya. Saya pun masuk dan menyambangi apa yang disebut sebagai Makam Belanda.

Cahaya matahari menyusup di sela-sela pohon bambu yang tumbuh rapat. Deretan nisan dikelilingi tembok bata setinggi pinggang orang dewasa. Di dekat pintu masuk terdapat papan informasi. Rupanya, makam ini sudah ada bahkan sebelum Kebun Raya Bogor didirikan pada 1817.

Ada 42 makam, 38 di antaranya punya identitas sedangkan sisanya makam tak dikenal. Mayoritas jasad yang dimakamkan adalah kerabat dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Makam DJ de Erens, Gubernur Jenderal yang menjabat tahun 1836-1840 terletak tidak jauh dari pintu masuk. Ada pula makam Ary Prins, ahli hukum yang 2 kali menjadi pejabat sementara Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Masuk lebih dalam, ada makam 2 ahli biologi yang meninggal tahun 1870-an pada usia muda. Mereka dimakamkan dalam 1 tempat, dengan 1 nisan. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan JC Van Hasselt, anggota ‘The Netherlands Commission for Natural Sciences’ yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua, yang tidak juga saya temukan meski sudah berputar dan membaca tiap nisan, adalah milik Cornelis Potmans. Dia adalah seorang Belanda yang jadi administrator toko obat, wafat pada 2 Mei 1784.

Makam terbaru, dengan nisan yang paling modern adalah milik Prof Dr AJGH Kostermans. Ahli botani keturunan Belanda itu wafat pada 1994. Dia lahir dan menjadi Warga Negara Indonesia sejak lahir pada 1958.

Sesuai keinginannya, Kostermans dimakamkan di lingkungan tumbuhan yang dia cintai. Ini juga sebagai bentuk penghargaan pemerintah Indonesia, atas jasa Kostermans bekerja di kantor Herbarium Bogoriense sampai akhir hayatnya.

makambel1

makambel2

makambel3

makambel5

makambel6

Randy

P1060497

I don’t know where to start so I’m seeing your face, right now, covered by dark brown jacket and blue hat you always wear to get warm. This picture moves like puzzles in my mind, Randy, I remember that night you found me in such a mess condition. There was a slight spark in your eyes finding your guest arrived safely at the inn. It’s late, too late at night and the cold was such a sting. I was shaking.

“I know you’re going to make it. I emailed you few times today but no response. But somehow I know you’re on your way, that’s why I asked my brother to wait and pick you up on the street. I know you’re not going to give up.”

—————–

Oh, you’re such a father. No wonder all citizen of Banaue knows your existence. There was always a huge smile when I told them, “I’m staying at Randy’s Brookside Inn.”

Banaue, Philippines. A tiny, laid back town with one of the best landscape I ever see: world’s oldest rice terraces. The next day, I remember you made me a full plate of toast, eggs, and freshly cut tomatoes. You said it’s gonna be a tiring day.

A trip to Batad Rice Terraces took the whole day. My feet got stiff because it was raining all day. At the end of the day I found you standing at the door, a little panicky.

“Thank God you made it. It’s Haiyan typhoon!”

—————–

I became a lazy, lazy Cinderella the next day. It was raining all day and all I can do is doing nothing. We spent hours and hours watching TV, having conversations while the rain pours heavily, sipping cups and cups of hot tea. We found Philippinos and Indonesian pretty much had a lot of common.

Twenty five, I said, when you asked about my age. It was my first time in Philippines and traveled alone. You’re about 50-s and a father of four. You started showing pictures of your wife, sons and daughter. Your children were studying in Manila. You love them, and you miss them so much. I could hear it from your tone.

“But you, your presence just like my own daughter, Sastri. Please keep in touch, and come back here.”

You said that on my last day in Banaue. I said yes.

“Someday, with my husband. We’ll come back for you.”

Review Buku (yang Sangat Subjektif Karena Saya Suka): ‘The Dusty Sneakers’

photo

“Jika kau ingin mengetahui apakah seseorang mencintai buku, lihatlah sisi tempat tidurnya. Saat-saat menjelang tidur akan dia isi dengan membaca. Terkadang, dia lupa bahwa buku yang dibaca pada malam sebelumnya telah menunggu di nakas atau tergolek di sisi bantal.”

Begitu kata Gypsytoes dalam ‘Menyapa Shakespeare di Paris’, sebuah kisah tentang kunjungannya ke toko buku termasyhur Shakespeare and Co. Tahukah kamu, Gypsytoes, aku seharusnya bisa melahap bukumu dan Twosocks dalam sekali baca jika tidak karena tertidur. Seperti katamu barusan, buku itu tergolek di sisi bantal.

Namun bagiku ini adalah anomali. Obsessive-compulsive Disorder; tak ada satu barang pun yang tidak kusimpan pada tempatnya. Saat menemukan buku itu tergolek, acakadut tanpa pembatas pagi harinya, nyengirku mengembang seperti Joker lagi kasmaran.

‘The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana’. Buku ini begitu menghipnotis. Perjalanan memang jadi intinya, tapi yang membuatku kagum, adalah cara Maesy Ang (Gypsytoes) dan Teddy W Kusuma (Twosocks) menceritakannya dengan romantis.

Oh, betapa perjalanan bisa membuat seseorang menjadi begitu manis. Dua insan (sahabat, begitu mereka bilang secara berulang-ulang di buku ini :p) saling bertukar cerita dan pikiran dari masing-masing tempat yang dipijak. Sebenarnya tempat-tempat itu menurutku biasa saja, baik Twosocks yang menjelajah Nusantara atau Gypsytoes yang berkeliling Eropa. Tapi cara mereka berdua mendeskripsikannya, bagai minum es kelapa muda di siang terik Jakarta. Segar!

Saat Twosocks mengisahkan Merauke dalam ‘Salam dari Timur’, senyumku melebar. Ini adalah kisah pertama dan tak secuil pun bernada hiperbolis. Twosocks mengesampingkan segala ‘how to’ ‘where to’ dan unsur keindahan, menggantinya dengan perbandingan, pertanyaan. Sebuah kontemplasi, yang kemudian kusadar ada di tiap kisah di buku ini.

Aku suka cara Gypsytoes menarik pembaca untuk melihat sebuah tempat dari sudut pandangnya. Bagaimana toko buku Shakespeare and Co lebih menarik dari Menara Eiffel. Bagaimana persahabatan menjadi inti perjalanannya ke Portugal. Bagaimana ruang UGD jadi ‘destinasi’-nya di Roma.

Gypsytoes adalah orang yang tak mau repot-repot menjelaskan apa itu Manneken Pis. Dia memaksa kita, dengan cara yang manis, mengetahui kisah-kisah di baliknya.

Arip Syaman! Betapa kisah sahabat Twosocks itu membuatku terbahak. Diceritakan dengan jujur dan tak melebih-lebihkan, naik Gunung Ciremai saja bisa jadi begitu menghibur. Seperti kubilang barusan, selalu ada kontemplasi. Dalam kisah ‘Arip Syaman, Sahabat yang Ganjil’ aku dibuat kagum atas usaha Arip Syaman menaklukkan mentalnya sendiri.

Kata itu memang tepat untuk mendeskripsikan Arip Syaman. Ganjil.

Konsistensi pada tiap cerita patut diacungi jempol. Aku suka benang merah buku ini, ketika kalian selalu bertukar cerita tiap akhir perjalanan. Termasuk komentar Gypsytoes tentang perjalanan Twosocks, pun sebaliknya. Kisah di Bangalore, pas di bagian tengah buku, lantas menjadi favoritku.

Mereka ibarat dua seleb Bollywood menari-nari di tengah taman. Asyik saja menari di tengah hujan, sementara Bangalore seperti jadi tamannya saja. Untuk ke sekian kalinya, destinasi tak memegang peran utama.

Aku kagum saat rutinitas Gypsytoes diceritakan oleh Twosocks. Tentang tesisnya, perkumpulan Blank Noise-nya, yang Gypsytoes sendiri hanya menceritakannya sambil lalu. Kehadiran Twosocks lebih menarik bagi Gypsytoes untuk diceritakan.

Namun yang namanya buku perjalanan, tak berarti hal-hal seputar destinasi dilewatkan. Gypsytoes dan Twosocks tetap mengisahkan kota-kota yang mereka datangi. Paris, Praha, Palermo, Roma, Baduy, Merauke, Siprus, Taipei, sampai Singaraja yang adalah kota asal Twosocks.

Duo pejalan ini menyadarkanku, untuk ke sekian kalinya, perjalanan bukanlah sesuatu yang dilakukan sambil lalu. Selalu ada hal baru. Meski kita mendatanginya berulang-ulang; meski kota itu adalah tempat tinggal kita sendiri.

‘The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana’ kini masuk dalam daftar buku perjalanan berbahasa Indonesia favoritku. Selain tentunya ‘Selimut Debu’, ‘Garis Batas’ dan ‘Titik Nol’ yang semuanya karangan Agustinus Wibowo.

Memberi Makan Danau

k1

Manusia memadati pelataran parkir Taman Nasional Kelimutu. Sudah pukul 13.00 Wita, saatnya acara makan-makan dan menari bersama. Namun cuaca yang awalnya luar biasa cerah berubah sendu. Dalam sekejap kabut turun, menyelimuti pandangan, menyeruak di antara pepohonan.

Arwah sudah turun,” bisik salah satu Mosalaki.

k6

Mereka adalah orang-orang terpilih. Para Mosalaki, alias pemangku adat Suku Lio, melakukan persiapan tak biasa hari itu. Sebagai penghuni kaki Gunung Kelimutu di Flores, NTT, mereka akan melakukan upacara paling sakral yang dilakukan tiap 14 Agustus: Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata.

Memberi sesaji kepada arwah leluhur, begitu sekiranya arti Pati Ka. Waktu memasuki pukul 09.00 Wita. Berbalut tenun ikat Flores, 17 Mosalaki berbaris dua-dua. Mereka membawa sesaji berupa sirih, pinang, rokok, nasi, daging, dan tuak. Semuanya berwadah batok kelapa.

Seorang Mosalaki berdiri di paling depan, memimpin rombongan. Dia memegang gong sambil sesekali menabuhnya, mohon izin agar dilancarkan jalannya. Pagi itu, suara kicauan burung sangat riuh. ‘Burung arwah‘, begitu Suku Lio menyebutnya. Burung yang sangat jarang terlihat, hanya kicauannya yang terdengar.

Langkah demi langkah, para Mosalaki naik ke pelataran sebelum puncak. Melepas alas kaki, mengelilingi batu keramat.

k8

k9

k10

Sesaji itu ditujukan kepada arwah leluhur yang konon menghuni 3 danau: Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nua Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo. Tiga danau yang bisa berubah warna tanpa penjelasan masuk akal. Tak ada seorang pun, termasuk para Mosalaki, yang pernah melihatnya berubah warna.

Selalu berlangsung saat malam, kabut tebal lebih dulu menutupinya,” kata Mosalaki Emanuel Kunu Ndopo.

Mantra, puji-pujian dan kalimat adat dilontarkan salah satu Mosalaki. Diucapkan secara lantang, suaranya menggema di udara. Mereka kemudian duduk mengelilingi batu keramat, menaruh sesaji, kemudian bergantian minum tuak.

Para Mosalaki serentak berdiri. Berpegangan tangan, kemudian mulai menari Gawi. Tak ada gerakan yang berarti, hanya hentakan kaki namun berpola rumit. Kalimat dan nyanyian adat kembali menggema. Para pengunjung diam meski bersimbah sinar matahari. Cuaca masih cerah sampai turunnya para Mosalaki.

k5

Tidak apa-apa. Lihat, berhenti di sana,” celetuknya.

Mosalaki itu mengerahkan telunjuk ke pinggir pelataran parkir. Layaknya magis, kabut tebal seakan terhenti di sana. Hanya kabut tipis yang menjalar masuk.

Pukul 13.00 Wita. Lautan manusia yang menjadi saksi jalannya upacara Pati Ka mulai duduk di terpal untuk makan bersama. Para mama Suku Lio sudah memasak nasi, daging ayam, dan daging babi dalam jumlah besar sejak pagi buta. Tiap pengunjung boleh makan. Turis asing sumringah melahap sepiring nasi dan semangkuk olahan daging.

Para Mosalaki kemudian kembali membentuk lingkaran. Menari Gawi, diikuti oleh warga lainnya. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, turis asing dan lokal, berbaur untuk menari bersama. Udara yang menggigit kulit tak lagi terasa. Canda dan tawa membaur di udara.

k7

Pikiran saya melanglangbuana ke atas sana. Naik ke puncak Kelimutu, menerawang ketiga danau yang saat itu berwarna biru-biru-hitam. Di tengah kabut tebal, mungkin arwah leluhur juga sedang berpesta.

k1

k3

k4

Di Balik Cadar

Image

Saya selalu suka perasaan itu. Tak dikenali, meski identitas secara umum masih terlihat lewat fisik. Muka Indonesia ini selalu saru dengan Malaysia karena jilbab di kepala. Tapi selain itu, tak ada yang peduli siapa saya.

Berapa umur saya. Apa pekerjaan saya. Di mana saya tinggal. Apakah saya baik, atau justru tidak.

Perasaan seperti itulah, tak dikenali, yang membuat saya candu akan perjalanan.

**********

Pertanyaan ini sudah melekat di kepala bertahun-tahun lamanya. Seperti apa rasanya hidup di balik cadar? Memakai pakaian serba hitam, dengan kain tipis yang hanya terbuka di bagian mata. Di negara saya yang mayoritas Muslim saja, ‘gumpalan’ hitam itu selalu dilihat dengan sebelah mata. Apa gunanya mengenakan pakaian serba hitam dan panjang, di negara tropis yang mataharinya tambah terik akibat pemanasan global?

Hingga akhirnya di Tanah Suci, pertanyaan itu terjawab.

Mekah, 41 derajat Celcius. Mata saya memicing ke arah jalanan penuh debu akibat pembangunan yang tak kunjung rampung. Tangan saya sigap merogoh tas, mencari kacamata hitam. Kemudian masker. Lalu topi untuk melindungi kepala.

Dengan pakaian yang serba longgar, hampir tak ada bagian tubuh yang terlihat saat itu. Kecuali telapak tangan, juga sedikit bagian antara hidung dan mata. Saya berjalan di antara ribuan, puluhan ribu, wanita berpakaian serupa.

I feel invisible. Sebuah perasaan tak dikenali yang sangat nyaman; perasaan aman yang tak bisa diungkapkan. Alih-alih paras, tak ada yang melihat saya karena lekukan tubuh atau kulit sawo matang khas Asia.

Di mana orang lain berbuat baik tanpa melihat cantik atau tidaknya paras saya. Menolong dengan tulus tanpa menimbang berapa banyak harta yang saya punya. Tanpa peduli dari mana saya berasal. Berapa umur saya. Apakah saya baik, atau justru tidak.

Perasaan yang membuat candu, sama dengan yang saya dapatkan pada sebuah perjalanan.

Dan sekarang saya tahu, apa rasanya hidup di balik cadar. Meski nyatanya, saya belum akan memakainya sekarang. Itu justru membuat saya lebih dikenali, apalagi bagi orang-orang yang seringkali menutup sebelah matanya.

In Front of Ka’bah

20140501-000720.jpg

She held my hand and whisper, “Allahuakbar.” Tears started to fill those eyes, slowly pour down her cheek. She wasn’t young enough to do a full salat gesture, just like I did few minutes before. Her wrinkles shows it. But those smile made her kindness clearly seen.

She held my hand and took her nametag. Pointed at the flag picture, the country she came from.

Turkey,” I said. I took mine and said, “Indonesia.”

She smiled once again, held my hand tighter than before. Her right hand pointed at my chest, then straight to Ka’bah.

Your heart belongs there,” she said slowly, almost whispering.

I can feel tears falling down my cheek. The Turkish woman swept it slowly, genuinely, pointed once again to my chest, then to hers, before started to pray in Turkish.

Her tears pour heavily just like mine. Just after she pray, I did the same thing. Pray for both of us, in Indonesian, hope Allah gives her a long live and age, also a bunch of bless.

In front of Ka’bah, we held each other tightly. Neither know who she is, nor who I am to her. Everybody are just the same in front of Allah.

In front of Ka’bah, I felt a true peacefulness and realized one thing: it’s a place where thousands human being pray for others. A place to pray for strangers.

Just like the Turkish woman did to me. Just like I did to you, all Muslims from all over the world, to come and pray for others… In front of Ka’bah.

A Blind Kindness

Image

Missing this shy yet heart-warming Balinese girl, as well as her generous Dad.

I met them while resting in a tiny village of Cagan, Gianyar. The Dad bought me coconut fruit he got by climbing its tree few moments before. His daughter stared quietly from the corner, slowly gave me a cute, shy smile.

This kind of human interaction that I miss the most when going somewhere. A crave for blind-kindness from someone I don’t even know.

Because when you’re going somewhere, you didn’t bring any title. No one even know who are you, how old are you, where are you come from. Where did you work, what position you fulfill.

They don’t see you as you. They don’t even need to know your name. Neither your religion, nor your belief. They will see you as a human being. As a soul, as well as God’s creation.

Because this is what I need, what I always crave. A sincere, honest kindness that came from generous hearts.

I don’t even know his name. Also can’t remember her name. And that’s why I always want to hit the road, over and over again.

In the Dark

Image

I remember this place.

We always argue about who’s suppose to be in the left, and who’s the one in the right. There’s so much time to argue as arguing is the best way to spend time. Then you hold me and smile, whispering, we can argue about it next time.

It’s always been our favourite spot. For me, it’s the most beautiful place in the world. A place where sky meets the ocean, far far away in the horizon. Where the sand feels so soft and the wave sounds so instrumental. A place where the breeze smells like coconut leaves.

I could spend forever strolling down the seashore. Collecting empty shells, making sand castle. But in the middle of the making, I always distracted by the waves and suddenly go to chase them. You always be the one who finish it. The castle won’t be the same without you.

We holding hands, nothing to say. Until the sun almost set and I stand there quietly, asking you, will the sun rise again next morning?

That time I start to worry, you take me to this place. The safest one as far as you can see. Nothing fancy, you said, “But I promise to protect you.”

And there you go. You become a storyteller to distract me from sound of unseen waves. Making a bonfire to cheer me up. Hold me until I get slept, awake just before I’m awake. You’re always there, night by night.

In the dark, I always asked you who’s suppose to be in the left, and who’s the one in the right. There’s so much time to argue as arguing is the best way to spend time. Then you hold me and smile, whispering patiently, we can argue about it next time.

A Better Partner

Image

Traveling wasn’t always bring a happy ending. But it always make you a better person.

Kemarin, Universal Studios Singapore tampak begitu ceria. Kami tertawa lepas, berfoto di banyak tempat, naik semua wahana dan teriak sampai suara penghabisan. Sulit dipercaya malam ini kami kembali lagi, ke tempat yang sama, air mata membanjir di kedua pipi teman traveling saya.

*********************************************************************************************************************************

Ema menangis tertahan. Antara panik, takut, sedih, dan bertanya-tanya bagaimana cara dia pulang. Semua dokumen pentingnya: paspor, uang, KTP, SIM, NPWP, tiket pesawat, dan lain-lain, disimpannya dalam satu dompet. Dan dompet itu hilang.

Mungkin tercecer, mungkin juga diambil orang. Entahlah, merunut ke belakang sudah tak penting sekarang. Kami bersimpuh dengan tas masing-masing di depan Universal Studios, tepat pukul 22.00 malam.

Yakin dompetnya tak terselip, saya menggeret Ema ke depan Casino dan melapor ke petugas keamanan setempat. Tak ada waktu untuk drama, kami harus pulang esok dini hari. Pukul 05.45, begitu yang tertera di tiket pesawat yang ikut hilang.

Head of Security Resort World Sentosa menanyai kronologis hilangnya dompet Ema. Zul, begitu nama panggilannya, mengerahkan pasukannya untuk sweeping di tempat-tempat yang kami datangi sebelumnya. Saya dan Ema dititipkan ke tempat peristirahatan murah di kawasan yang sama.

Pukul 03.00 dini hari, dan tak ada tanda-tanda ditemukannya dompet Ema. Zul kemudian menulis surat kehilangan beserta secarik kertas, dengan tulisan alamat-alamat yang kami butuhkan. Kantor polisi terdekat, KBRI, dan nomor ponsel pribadinya jika kami butuh bantuan.

Otomatis Ema akan membatalkan penerbangan pagi itu. Me? I won’t leave her alone. I’ll buy another ticket later.

*********************************************************************************************************************************

Dini hari itu kami habiskan dengan membuat surat kehilangan di kantor polisi, kemudian tidur sejenak di pos satpam KBRI. Seharian Ema mengurus surat-surat di Immigration & Checkpoints Authority of Singapore (ICA). Kemudian kembali lagi ke KBRI, membuat paspor sementara, kembali lagi ke ICA sebelum bisa pulang ke Tanah Air.

Tapi urusan tak semulus seharusnya. Paspor sementara tak bisa jadi hari itu, kami harus menunggu 1 hari lagi. Ema mengatakannya dengan bibir bergetar, saya yakin dia menangis sebelumnya.

Saya dibesarkan dengan sikap dan pikiran logis, paling tidak suka berdrama-drama. Tapi menyadari fakta bahwa saya harus meninggalkan partner traveling seorang diri, ada rasa sedih yang memaksa air mata untuk mengalir.

*********************************************************************************************************************************

And it hurts. It really hurts. Tangis itu membuncah di taksi, saya tak tega meninggalkan Ema seorang diri. Tapi Ema memastikan ia punya tempat untuk bermalam, juga uang saku untuk berbagai keperluan.

Ema mengantar saya ke Bandara Changi. Membeli tiket untuk boarding secepatnya, sementara ia bertolak ke rumah teman kakaknya untuk menginap.

Perasaan sedih itu senantiasa hinggap. Banyak hal yang saya sesali: tidak memerhatikan kondisi sekitar, tidak mengingatkan Ema soal barang-barangnya, tidak bisa menemaninya lebih lama. Saya menyesali perjalanan kali ini tak berujung manis, meski hari-hari sebelumnya penuh canda tawa.

Tapi biarlah perjalanan kemarin jadi pelajaran. Let me be a better person, better partner while traveling. Can’t wait for our next trip, Em! 🙂

For (Not) Only Being A Traveler

Image

I started to think, it’s not right anymore for only being a traveler.

I do like to go somewhere, I travel quite hard. But what I realized then, being a traveler wasn’t enough. I want more time, to know a lot more about the destinations. Not only strolling down into it, having conversations with the locals, tasting foods, or having a responsible journey.

The more I travel, the more I realize this. I found traveling is only become the way I get what I wanted. And what I want is not traveling; but to know and help people. To give more and doing something useful for them. Not only come and go.

Many kind of profession suits that. Archeologist, biologist, doctor, anthropologist, volunteer… I think I’m going to search one that suits me best.

Being in a rural area with the locals brought me unbearable happiness. Makes me grateful for every single piece, doesn’t matter our differences are uncountable.

So the beauty of a place itself, the richness, and the stories, are just a bonus.