Beruntunglah Kita yang Jauh dari Depresi

Depresi pernah hanya menjadi sebuah kata, familiar di telinga, namun asing dalam dunia nyata. Tak ada sejarah depresi dalam lingkaran teman dan keluarga saya — stress adalah level maksimal.

Terlebih seseorang bisa dicap depresi jika psikiater sudah ketok palu. Bahwasanya orang tersebut sudah berada dalam tingkat tertinggi kewarasan. Pikiran yang awalnya lurus perlahan bergelombang, seperti petikan senar gitar.

Mungkin, kondisi saya waktu kecil sedikit banyak mencerminkan depresi. Sayangnya tidak ada kata psikiater dalam kamus hidup saya dulu. Namun dengan kondisi broken home, Ibu lebih dari 1.000 km jauhnya dan Ayah bolak-balik ke luar kota tiap minggu, tak ada yang bisa saya lakukan selain tidur tengkurap di kolong kasur beralaskan tegel dingin. Tidak mandi, tidak makan, dari pagi sampai petang. Begitu terus selama setahun, mungkin lebih. Apakah itu depresi?

Hingga akhirnya kata depresi menghampiri lagi, kali ini lewat unggahan Facebook seseorang yang men-tag teman perjalanan saya dulu.

“Rest in peace, *nama disamarkan*. Died of depression.”

Pikiran saya melayang ke Banaue, Filipina, empat tahun lalu. Di tengah kesakitan karena kram kaki kanan, seorang Mindanao (daerah paling selatan Filipina) berlari menghampiri. Dia membopong saya naik ke atas bukit, menembus kabut tebal yang membuat suhu petang itu sedikit saja di atas titik beku.

“Sebentar lagi gelap,” katanya cepat.

Saya yang waktu itu masih (relatif) muda dan naif tidak memikirkan risiko apa-apa saat trekking ke Banaue Rice Terraces, terasering tertua di dunia berusia 2.000 tahun. Trek menuju terasering ini memang sulit, bahkan untuk saya yang afdhol mendaki gunung-gunung tertinggi di Jawa.

Hari sudah gelap saat kami tiba di basecamp utama. Petugas mengatakan saya adalah orang terakhir yang akhirnya tiba waktu itu. Jika tidak, ancamnya, mereka terpaksa menyisir area seluas lebih dari 200.000 hektar.

Tak henti-hentinya saya berterima kasih kepada seorang Mindanao yang sangat ringan tangan waktu itu. Masih dengan nafas tersengal-sengal, dia hanya membalas ucapan saya dengan senyum dan gerakan tangan yang seakan berbunyi “never mind“.

Randy’s Brookside Inn,

Begitu nama homestay saya waktu itu. Sang pemilik, Randy, adalah seorang bapak dari tiga anak yang tinggal seorang diri di rumah sederhana tersebut. Ketiga anaknya melanglangbuana, kuliah dan bekerja, pun hanya pulang ke rumah satu kali setahun.

Para tamulah yang kemudian menjadi “anak” dadakan Randy sepanjang waktu. Tak henti-hentinya dia bertanya “Are you okay?” setibanya saya di rumahnya. Randy lalu membuatkan secangkir teh manis hangat kemudian mempersilahkan saya mandi.

Namun rupanya saya bukanlah satu-satunya orang yang berniat mandi malam itu. Wajah familiar muncul dari atas tangga, handuk di tangan kanan dan sikat gigi di tangan kirinya.

Air muka khas Mindanao yang sangat mirip Melayu itu langsung berubah kaget. Senyumnya kembali tersungging.

You!” katanya.

Tiap malam adalah malam yang panjang di rumah Randy. Dibanding tidur di kamar, para tamu kerap memilih kruntelan dalam selimut di ruang tengah sambil menonton siaran televisi. Randy menyediakan makanan ringan dan minuman hangat sepanjang malam – ia sendiri lebih memilih terjaga sampai pukul tiga dini hari untuk memastikan tamunya nyaman.

Malam itu saya, Randy, sang Mindanao, dan sepasang turis Rusia mengobrol santai di ruang tengah. Ruangan masih didominasi tawa hingga akhirnya, setengah terlelap, seseorang memecah keheningan.

“My wife has passed away. My daughter also passed away. It was a rainy day and our car slipped, that’s all I remember.”

Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah saya dengar keluar dari mulutnya. Panjang dan menyakitkan.

Sorry to hear that,” ujar kami hampir berbarengan.

Are you okay?” tanya salah satu turis Rusia.

Dia tersenyum, dan kembali memeragakan gestur tangan yang mengisyaratkan “never mind“.

Empat tahun berlalu.

Ia tak pernah menguggah apa pun di laman Facebook-nya. Hanya beberapa tag dari teman atau keluarga. Sejak itu, September 2014, ia mengingatkan saya pentingnya menghargai dan menyayangi orang lain. Tak ada yang tahu kapan umur kita akan berakhir.

Died of depression. Empat tahun berada dalam bayang-bayang istri dan anak yang telah tiada – dan entah hal apa lagi yang membuntutinya. Entah bagaimana ia meninggal dunia. Mungkin ia sudah tidak tahan. Mungkin ia pernah berusaha bangkit, namun gagal. Dan seribu kemungkinan lain dalam hidupnya.

Beruntunglah orang-orang yang jauh, atau berhasil bangkit dari sebuah lubang hitam bernama depresi. Beruntunglah jika kita masih bisa melihat dunia luar — tanpa memikirkan kemungkinan bunuh diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s