Month: May 2016

Enam Hari Bersama Don Hasman (1)

image1-3.JPG

Saya keluar bukan karena gigitan udara dingin di kaki Gunung Agung, atau sinar matahari yang perlahan menembus tenda oranye berhiaskan embun. Dari luar sana terdengar suara yang familiar. Bersemangat, bahkan sedikit menggelegar. Tiga detik kemudian, baru saja saya menjulurkan kepala, suara itu menyambut dari belakang tenda.

“Sastri!”

Don Hasman menghampiri kemudian membungkuk, menyalami tangan saya kuat-kuat, mengelus kepala seperti kakek yang sudah lama tak bertemu cucunya.

“Gimana, sehat?”

Sang fotografer legendaris idola saya dari kecil benar-benar ada di depan mata. Masih dengan wajah dongo dan kesadaran setengah, saya cuma bisa mengangguk sambil tersenyum lebar.

***************************

Senin, 2 Mei 2016. Saya mengutuk diri sendiri sambil jalan cepat ke toilet umum. Bodohnya kau, Sastri. Harusnya kamu ketemu Don Hasman dalam kondisi rapi. Wangi. Sudah bangun dari jam lima untuk mandi dan dandan sedikit.

Oh ya, kamu juga belum belajar fotografi. Nah lho.

Tepat saat saya mulai menepok jidat sendiri, Oom Don menyusul dengan langkah yang tak kalah sigap. Seorang bapak petugas kebersihan sedang menyapu toilet umum. Tanpa pikir panjang, Oom Don melepas sepatunya. Dia masuk toilet sambil menyapa selamat pagi kepada sang Bapak.

Hanya dalam waktu lima menit, saya melihat dengan mata kepala sendiri sosok sederhana yang jadi panutan para fotografer ternama negeri ini. Seorang kakek 75 tahun yang rendah hati, dengan semangat yang masih berapi-api.

Begitu keluar toilet, Don Hasman menyalami semua orang di base camp Pura Agung. Semua orang spontan terkena percikan energi positif Oom Don.

“Bersemangat sekali dia ya, mbak. Siapanya mbak?” tanya warga lokal yang kebetulan mangkal di base camp pagi itu.

Dengan percaya diri saya menjawab, “Kakek saya.”

Saya berfirasat, mungkin Oom Don tidak mau memperkenalkan diri sebagai Don Hasman. Dia membawa nama besar – yang bagi orang sepertinya, ada kalanya lebih baik tersembunyi saja.

***************************

Ini adalah hari ke-7 ekspedisi ‘Jelajah Tanpa Batas’ yang diselenggarakan Kompas.com, bekerjasama dengan Nissan, Pertamina, dan Eiger. Dua mobil Nissan – All New Navara dan All New X-Trail – mengantar Willem Sigar Tasiam mendaki 50 gunung dalam 40 hari.

Bagi yang dalam hati bertanya siapa gerangan Willem Sigar Tasiam, dan berani-beraninya dia berniat mendaki gunung dengan jumlah lebih banyak dibanding harinya: Willem adalah atlet maraton gunung solo yang pernah memecahkan rekor mendaki 40 gunung dalam 32 hari. Ekspedisi kali ini dimulai di Gunung Kelimutu (Nusa Tenggara Timur) dan berakhir di Gunung Sibayak (Sumatera Barat).

Sebagai sahabat Oom Willem, Oom Don punya andil cukup besar dalam ekspedisi ini. Tanpa Oom Don, mungkin tak akan ada dua Nissan keren warna oranye metalik yang selalu jadi pusat perhatian. Apalagi kalau lewat kampung.

Satu minggu sebelum ekspedisi, saya membuat biografi Oom Willem dan Oom Don sebagai teaser ekspedisi kali ini. Itulah mengapa suara Oom Don terdengar begitu familiar.

“Sastri, nanti kau bantu ya, bareng-bareng kita buat buku ekspedisi ini untuk Willem. Saya percaya kamu punya kemampuan. Semua orang pasti punya.”

Waktu perbincangan telfon itu, saya hampir menangis terharu. Bukan apa-apa, dua hari sebelumnya saya bertemu segerombol wartawan lifestyle yang mengaku sudah kawakan. Mayoritas dari mereka mengerenyitkan jidat, atau menghela nafas panjang begitu tahu kalau belum genap satu bulan saya bekerja di Kompas.com. Masih hijau, begitu kira-kira.

***************************

Begitu Oom Willem turun dari Gunung Agung, mobil langsung melaju ke kaki Gunung Batur di Kintamani. Oom Don naik Navara bersama Oom Willem. Hampir tiap kali berhenti, Oom Don menghampiri X-Trail untuk sekadar membukakan pintu.

Memangnya saya siapa, dibukakan pintu segala oleh Don Hasman?

Sambil menunggu Om Willem mendaki Gunung Batur, Oom Don membelikan saya sekantung besar tomat dari penduduk lokal. Untuk asupan vitamin C, katanya. Kebetulan saya baru mulai sariawan.

Malam itu kami cukup beruntung, tidur di penginapan cukup nyaman di wilayah Tabanan. Saat makan malam, Rusdi, salah satu anggota tim ekspedisi iseng bertanya kepada Oom Don.

“Oom, masih segar usia segitu rahasianya apa?”

Fotografer kawakan itu tampak bingung sendiri. Apa ya? katanya, malah balik bertanya.

“Istirahat cukup, makan cukup, banyak gerak… Kalau ada pikiran, bantu orang,” dia menjawab sambil lalu.

Saya tidur dengan pikiran mengawang-ngawang soal jawaban itu. Teori yang sangat sederhana. Terlebih karena ‘bantu’ versi Oom Don tidak melulu berkaitan dengan uang.

Di hari pertama, membantu orang lain versi Don Hasman berderet macamnya. Mulai dari ucapan selamat pagi, membereskan piring usai makan siang, sampai membeli hasil bumi langsung dari warga lokal.

Advertisements