Month: July 2015

Salah Bapak

Rasa canduku terhadap perjalanan tidak bisa dibendung. Bapak adalah sosok inti yang harus disalahkan soal ini, dia membawaku kemping selagi aku belum mampu buang air kecil sendiri. Bukit Lawang, kata Bapak mengingatkan saat sahur tadi. Esok harinya beliau terheran-heran anak perempuannya tidak di tenda dan sudah basah kuyup main air di pinggir kali.

*****

Tepat di usia ke-7 saat aku, dengan pipi masih gembil dan rambut ikal seperti indomie, mengenakan overall jeans dan kaus putih bergambar Bugs Bunny, dengan santainya mengeluarkan kepala dari jendela mobil. Mulut kubuka lebar-lebar. Anginnya bisa dimakan Pak! Anginnya bisa dimakan Pak! Beliau sampai misuh-misuh menyuruhku memasukkan kepala (dan berhenti mangap), tapi apa daya…

Sastri, banyak truk!

Jalur lintas Sumatera – dalam perjalanan 3 hari pindah rumah dari Rantau Kuala Simpang (Aceh Timur) ke Bandung. Para supir truk paling geleng-geleng saat melihat sosok keriting-keriting nongol dari Fiat Uno merah. Beruntung dulu aku tidak kenal istilah masuk angin. Belum tahu malu juga.

*****

2011. Masih dengan kadar malu yang minim, kubentangkan peta lebar-lebar di pinggiran jalan Central Business District, Perth, Western Australia. Kutandai tempat-tempat yang akan dikunjungi, sembari pada akhirnya, tetap salah baca peta. Tapi sesuai janji, pukul dua siang aku sudah nyengir lebar di depan tempat dinas Bapak. Kubeberkan perjalanan jalan kaki pagi tadi ke Kings Park. Tentunya dengan nada menghasut.

Dua jam kemudian Bapak kembali misuh-misuh karena kuajak trekking naik bukit. Padahal ke Kings Park bisa naik bus Transperth, sekali kedip.

*****

Maret 2015 di Sarangkot, Nepal. Mataku berbinar melihat Fishtail, salah satu gunung di barisan Annapurna, bertabur matahari pagi. Puncaknya yang lancip dan beratap salju mengingatkanku pada Tintin in Tibet, salah satu petualangan favoritku dari si reporter berjambul. Itulah salah satu alasan Nepal, selain juga Tibet, sudah ada dalam angan-angan sejak aku masih duduk manis di bangku SD.

Bapak adalah penyebab Tintin, selain juga Asterix dan buku-buku dongeng Hans Christian Andersen, jadi santapanku setiap malam. Tapi soal mendongeng, Bapak sering bandel. Aku mau Three Little Pigs, dia keukeuh Jack and the Bean Stalk. Aku mau Secret of the Unicorn, dia baca Explorers on the Moon. Gara-gara Bapak aku dulu bercita-cita ke Borduria, negara fiktif dalam King Ottokar’s Sceptre-nya Tintin. Pokoknya Sastri mau ke Borduria! 

Bapak mengangguk sambil ngantuk-ngantuk. Iya besok ya, sekarang bobo dulu.

*****

Adalah Bapak, yang mungkin tanpa sadar memupuk rasa canduku terhadap perjalanan. Oleh karena Bapak aku sempat hampir dijambret di Bangkok, hampir dibawa kabur supir Jeepney di Filipina, naik gunung berkali-kali sampai puas meski hampir nyasar di Argopuro. Kabur dua minggu susur Sumatera. Mengagumi indahnya sunrise Kelimutu sampai hampir berlinang air mata. Dan ribuan cerita lain soal perjalanan yang nantinya yang insyaAllah, akan kuceritakan kepada anak cucu kelak. 

Terima kasih Pak. Pokoknya ini semua salah Bapak. I love you!