Month: June 2015

Sepotong Kue

Transjakarta yang setengah jam tak kunjung datang membuatku geram. Sudah pukul 22.20 WIB saat semua penumpang tujuan Ragunan dari halte Dukuh Atas mulai berdecak resah. Kakiku mulai lemas. Tekanan darah menurun, pandangan berkunang-kunang.

Bagiku hari itu sungguh berat. Mental diuji dari pagi, fisik diforsir bertubi-tubi. Tapi semua orang punya masalah masing-masing bukan? Dan dari nada kesal tiap kali Transjakarta lewat tanpa menaikkan penumpang, agaknya kami sepakat satu hal: Jakarta memang kejam.

Goyah, kulangkahkan kaki ke luar halte dan menghampiri sederet taksi Blue Bird di ujung jalan. Supir taksi yang akan kunaiki rupanya sedang tidur nyenyak. Supir lain membangunkannya.

Rasa letih agaknya tak bisa kusembunyikan lama-lama. Dengan ketus kuminta supir bertolak ke Jalan Warung Buncit. Lewat Kuningan, kataku menambahkan.

Sepanjang jalan pandanganku menerawang, sebelum akhirnya kusadar sedang memegang sebuah kotak. Isinya kue eclairs, diberikan oleh PR hotel ternama Jakarta pada meeting sebelumnya. Saat kubuka, eclairs yang jumlahnya selusin itu berantakan. Kutata satu per satu, kembali pada tempatnya. Kemudian tanpa sadar, menawari satu potong kepada Pak Supir.

Dia tersenyum malu sambil balik bertanya, “Boleh saya ambil ini mbak?”

Tentu Pak, tentu boleh. Nadaku spontan melunak. Dia melahapnya tanpa suara.

Mbak?

Ya, Pak?

Ini kue paling enak yang pernah saya makan. Terima kasih ya mbak.

Mataku kembali tertuju pada kotak yang isinya sudah berantakan. Kutawari sepotong lagi, dia menolak.

Terima kasih mbak, cukup satu saja, alhamdulillah.”

Advertisements

Hi, Sastri


“Hi Sastri.”


Notifikasi itu muncul sesaat usai meng-install aplikasi Viber. Brish Lamichhane, begitu nama si penulis pesan. Aku terkesiap. Buru-buru kuketik jawaban, panjang lebar. Menanyakan kabar, di mana dia sekarang, bagaimana kondisi di Nepal.

silver2

21 Maret 2015. Pandanganku menyisir bangunan tinggi langsing bertuliskan ‘Silver Home’. Kugendong carrier masuk ke lobby hotel yang kami bertiga pesan beberapa minggu sebelumnya. Seorang Nepal berwajah manis, berhidung mancung, mengenakan jas rapi menyambut di balik meja resepsionis.

“Oh, yes, I believe I had an email conversations with someone named Sastri.”

Pandangannya tertuju pada Christie, Hardi, kemudian terhenti padaku.

“And you must be Brish,” kataku, membalas senyumnya tanpa bisa menyembunyikan wajah letih. Usai perjalanan cukup panjang dari Jakarta, Kuala Lumpur hingga akhirnya Kathmandu, tak ada yang lebih kudambakan selain mandi air panas.

silver4


“How are you, Brish?”

“I lost my house.”


Beberapa hari setelahnya berjalan sangat lancar. Kami mulai menganggap sosok-sosok ini sebagai keluarga sendiri: Brish, sang manajer yang selalu menyapa meski ada tamu di resepsionis. Yogi, sosok sederhana yang tiap pagi menyiapkan sarapan yang ternyata adalah pemilik Silver Home. Ranjan, staf hotel berwajah sedikit-banyak mirip Joseph Gordon-Levitt yang sempat kabur untuk menemani kami jalan-jalan di museum.

Oh ya, Punamh, sang driver dengan rambut mirip Charlie ST12. Kami sempat kelabakan di bandara karena tidak melihat sosok dengan nama ‘Sastri’ terpampang di kertas. Beruntung seorang polisi akhirnya teriak, “SILVER HOME!” kemudian sosok pria lari tunggang-langgang dari kejauhan sambil membuka kertas yang sudah dilipatnya sampai kecil sekali: ‘Sastri’.

Esok harinya, Punamh juga yang mengantar kami ke kota kuno Bhaktapur dan Nagarkot yang terletak di puncak bukit. Sepanjang jalan kami tak perlu mengenakan headset karena Punamh, dengan kacamata hitam yang selalu dipakainya meski hari sudah senja, berkata, “This is the true Nepalese song.”

Alunan lagu itu sangat bersahabat di telinga. Sejenis Banda Neira. Payung Teduh. The Trees and The Wild. Kami serasa berada di film tentang perjalanan.

Punamh


“Oh my God… So where are you staying now?”

“Under the plastic.”


Malam-malam di Pokhara, 220 Km dari Kathmandu. Aku dan Hardi masuk ke Wartel untuk menelfon Silver Home. Agaknya kami punya ikatan yang terlampau kuat dengan hotel itu. Tak mau pindah ke tempat lain untuk sisa dua hari di Kathmandu.

“Brish! Brish! Hi, it’s Sastri. We would like to know whether the same room we booked earlier still available for the next two days?”

“Sastri! Yes I think it is. But you can call the hotel to make sure. I won’t be there by tomorrow. It’s my engagement day.”

“Really? Oh I’m so happy to hear that! Congratulations!”


“My marriage went very well, but four days earthquake make us out of our house. I feel really sorry for my wife.”


Gempa bumi melanda Nepal hanya beberapa hari usai kami pulang ke Tanah Air. Kami tahu persis kondisi Kathmandu Valley, mayoritas penduduk tinggal di bangunan yang hampir semuanya rapuh. Ibukota luluh lantak. Ribuan orang meninggal. Kawasan bersejarah Kathmandu Durbar Square hampir seluruhnya rata dengan tanah.

“And Silver Home? Ranjan? Punamh? Yogi?” tanyaku, sedikit berharap.

“Hotel is good. Everybody is safe. But the hotel next to us collapsed.”

Silver Home


“I’m sorry I can’t do anything to help. Sorry for your wife, and your house.”

“It’s okay. Take care Sastri. Once it heals, you can always come back.”