Malu yang Candu

Kok kamu kerjaannya jalan-jalan terus?” adalah lontaran pertanyaan yang mungkin paling sering kubiarkan menggantung di udara. Pertanyaan itu kunilai positif merupakan basa-basi yang dilontarkan orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli.
 
Namun kemarin, pertanyaan ke-seribu sekian ratus muncul dari seorang teman dekat yang kuanggap saudara sendiri. Dia bertanya justru karena peduli. Bagaimana caraku menabung, rencanaku di masa depan, keberlangsungan karirku beberapa tahun ke depan. Juga soal hubungan dengan orang tua, apalagi pacar yang selalu ditinggal.
 
Aku mulai menanggapi pertanyaan ini secara serius. Jawabannya, sangat awam namun paling mendekati, kira-kira seperti ini:
 
Perjalanan membuatku malu.
 
Perjalanan menyadarkan bahwa aku tidak ada apa-apanya di muka bumi. Kecil, kecil sekali. Perjalanan membuatku menyayangi sesama manusia, karena seluruh bumi ini diisi orang baik. Perjalanan adalah cara belajar adaptasi yang paling sempurna sekaligus paling ekstrem. Perjalanan memaksaku menerima semua jenis kemungkinan, semua jenis pemikiran, tak masalah apakah aku setuju atau tidak.
 
Perjalanan membuatku malu. Malu karena aku tidak setulus pemilik hostel tempatku menginap di Filipina, yang menunggu kedatanganku sampai pagi kemudian membuatkan teh panas dan menganggapku anak sendiri. Atau supir hostel di Nepal yang rela menunggu berjam-jam sampai mengantuk hanya karena aku mau melihat sunset dari atas bukit, itu pun akhirnya terhalang awan.
 
Malu karena aku tidak segigih anak-anak Wamena yang harus turun-naik bukit untuk bisa sekolah. Malu karena aku tak sesabar petugas loket karcis di Sukhothai karena bisa dengan tenang meladeni turis yang marah-marah. Malu karena aku tidak sebaik orang India, yang dengan sopan melarangku makan di restorannya karena ada menu yang tidak halal.
 
Rasa malu seperti itu yang lama-lama menjadi candu. Mungkin itu pula yang dirasakan orang-orang dengan segudang pengalaman dan kisah penjelajahan, namun ibarat padi, kian berisi maka kian merunduk.
Advertisements

14 comments

  1. Kak Sastri orang yang beruntung, rasa malu membuat kakak menemukan banyak hal dalam perjalanan yang telah lalu.

    Aku suka dengan kalimat “Perjalanan membuatku menyayangi sesama manusia, karena seluruh bumi ini diisi orang baik.”

    Itu juga yang aku alami kak. Alhamdulillah, aku bertemu dengan banyak orang baik saat melakukan sebuah perjalanan.

    Terima kasih untuk tulisannya =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s