Month: March 2015

PULANG

Processed with VSCOcam with c1 preset

 

“They say, find a purpose in your life and live it. But, sometimes, it is only after you have lived that you recognize your life had a purpose, and likely one you never had in mind.” – Khaled Hosseini (And the Mountain Echoed).

 

“WAKE UP! WAKE UP!”

Syal tipis yang menutupi tubuhku dibuka paksa. Pria, setelan hitam. Logo maskapai berbentuk bulatan merah terpampang di dada kirinya.

We’re moving to Q10.

Nadanya melunak. Agaknya baru sadar, yang dibangunkannya seorang wanita.

**************

Aku mengerjap, sontak terduduk. Dua temanku tidak di tempat. Kusambar carrier, backpack kupakai asal-asalan di bagian depan. Carrier milik Isty di tangan kiri, carrier Hardi di tangan kanan.

02.00 dini hari, boarding gate Q19, Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2. Aku berdesakan di tengah kerumunan orang Nepal yang kebelet pulang ke rumah. Sudah tiga hari mereka mendekam karena insiden ‘nosediving’ Turkish Airlines di Bandara Kathmandu. Bandara internasional satu-satunya, dengan hanya satu landasan itu terpaksa ditutup.

**************

Nepal dan Tibet sudah jadi negara impianku sejak kecil. Sudah terpaku dalam otak sejak Tintin kehilangan sahabat Tionghoa-nya, Chang, kemudian bertemu Yeti. Gambaran puncak-puncak Himalaya, hilir mudik manusia berwajah etnis Sherpa, warna-warni bendera doa lantas menjadi objek menghayal setiap hari.

Boarding gate Q10. Aku sudah terbiasa berebut tempat duduk dengan ratusan orang asing. Usai menginap 3 malam semua orang di sini agaknya mengerti konsep ideal ‘tempat duduk’: yang paling jauh dengan lubang AC, paling dekat dengan pintu boarding, dekat colokan pastinya sangat membantu.

“Malaysia?” tanya seorang Nepal.

“Indonesia,” jawabku lemah.

Raju, begitu namanya yang kutahu esok harinya, bertanya hilir-mudik tentang rencanaku di Nepal. Ke kota mana saja, mau lihat apa, menginap di mana, yakin mau paragliding di Pokhara?

Dia bercerita tentang Baglung, kota tempatnya berasal, yang dipagari perbukitan hijau dan puncak es Gunung Dhaulagiri. Saat kutanya, apa rasanya tinggal di kota mungil indah seperti itu?

Like… home?,” dia mengangkat bahu.

**************

04.00, boarding gate Q21. Raju melambaikan tangan dari jendela kaca gate sebelah sambil menunjuk boarding pass-nya yang baru dibagikan (kami berganti boarding pass tiap pagi). Penerbangannya tepat pukul 07.35. Hari itu juga. Hari pertama Bandara Kathmandu dibuka untuk penerbangan internasional.

Aku menunduk pada selembar boarding pass. Penerbanganku 3 hari lagi.

**************

07.00 keesokan harinya. Mimpi itu seperti sudah di pelupuk mata. Kulihat boarding pass baruku, kini bertuliskan Kuala Lumpur-Jakarta. Kuhela nafas panjang.

Pulang. Aku pulang. Raju pulang. Ratusan orang Nepal lainnya pulang. Mimpi itu menggantung begitu saja di langit-langit bandara.

Tapi jika mimpi masih sulit digapai, belum saatnya kita mencari mimpi yang baru bukan?

Advertisements