CHARLES

“Of all the hardships a person had to face, none was more punishing than the simple act of waiting.” – Khaled Hosseini

********************

Mataku menyipit terkena siraman matahari pagi. Pemandangan dari jendela kapal masih sama: lautan luas dengan gunung karst di beberapa titik. Piaynemo, begitu nama kawasan yang tengah disinggahi KM Tatamailau. Jangkarnya menembus kedalaman 50 meter, titik aman untuk menambatkan diri di kawasan konservasi Raja Ampat.

Setangkup roti kulahap habis, teh kuseruput dalam-dalam. Tegukan terakhir, mataku sontak mencari sesosok pria.

Charles, begitu namanya, sigap datang sembari menenteng seteko teh panas. Di hari ketiga ini, dia sudah hafal kebiasaanku meminta cangkir teh diisi ulang.

“Bapak, sudah sarapan?”

Belum, saya nanti saja,” jawabnya ramah.

Di balik senyum tulusnya, gurat usia tampak samar-samar. Sudah hampir 20 tahun Charles bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di PT Pelni. Ini adalah pagi yang kesekian ribu kalinya dia melayani penumpang di restoran kapal. Charles hanya pulang satu kali dalam 3-4 bulan.

Anak saya 2, satu sudah SMA satu lagi masih SD,” dia berkisah malam sebelumnya. “Yang kecil selalu nangis kalau saya tinggal.”

********************

Belasan tahun lalu, tangisan serupa acapkali meledak saat Ayah pergi ke luar kota. Aku tahu rasa rindu itu. Berapa hari pun kami menghabiskan waktu, momen kepergian Ayah pasti membuatku terbangun pagi buta dan merengek tak berkesudahan.

Pasti berat ya Pak, meninggalkan anak dalam kondisi seperti itu.”

…… Seperti cobaan terberat,” lirihnya.

********************

Cangkir teh terakhir di hari terakhir. Kapal sudah merapat di Pelabuhan Sorong sejak pagi buta. Kali ini senyum Pak Charles lebih mengembang dari biasanya. Satu kali lagi perjalanan menuju Fakfak, dan dia akan pulang ke rumah. Kembali ke pelukan hangat keluarganya. Kembali mengecup kening kedua anaknya.

Buat banyak orang, Mbak misalnya, perjalanan adalah untuk cerita ya kan? Buat saya, ini perjalanan demi bertemu keluarga.”

Aku membungkuk malu. Untuk Pak Charles, kulakukan salam dengan menempelkan punggung tangannya ke keningku. Persis seperti yang kulakukan untuk Ayah.

Advertisements

19 comments

  1. Ahhhh.. Aku jadi inget waktu dulu tinggal di luar kota dan ayah pulang sebulan sekali.. Meski cuma lima bulan ngadepin itu, tapi setiap ketemu ayah pasti kangennya banget-bangetan.. Bahkan waktu di bulan pertama aku lari-lari nyamperin becak yang dinaikin ayah..

  2. Aahh.. manis banget kak. Singkat namun betul2 sarat akan sebuah arti perjalanan bagi paj Chsrles dan juga bagi dirimu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s