Review Buku (yang Sangat Subjektif Karena Saya Suka): ‘The Dusty Sneakers’

photo

“Jika kau ingin mengetahui apakah seseorang mencintai buku, lihatlah sisi tempat tidurnya. Saat-saat menjelang tidur akan dia isi dengan membaca. Terkadang, dia lupa bahwa buku yang dibaca pada malam sebelumnya telah menunggu di nakas atau tergolek di sisi bantal.”

Begitu kata Gypsytoes dalam ‘Menyapa Shakespeare di Paris’, sebuah kisah tentang kunjungannya ke toko buku termasyhur Shakespeare and Co. Tahukah kamu, Gypsytoes, aku seharusnya bisa melahap bukumu dan Twosocks dalam sekali baca jika tidak karena tertidur. Seperti katamu barusan, buku itu tergolek di sisi bantal.

Namun bagiku ini adalah anomali. Obsessive-compulsive Disorder; tak ada satu barang pun yang tidak kusimpan pada tempatnya. Saat menemukan buku itu tergolek, acakadut tanpa pembatas pagi harinya, nyengirku mengembang seperti Joker lagi kasmaran.

‘The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana’. Buku ini begitu menghipnotis. Perjalanan memang jadi intinya, tapi yang membuatku kagum, adalah cara Maesy Ang (Gypsytoes) dan Teddy W Kusuma (Twosocks) menceritakannya dengan romantis.

Oh, betapa perjalanan bisa membuat seseorang menjadi begitu manis. Dua insan (sahabat, begitu mereka bilang secara berulang-ulang di buku ini :p) saling bertukar cerita dan pikiran dari masing-masing tempat yang dipijak. Sebenarnya tempat-tempat itu menurutku biasa saja, baik Twosocks yang menjelajah Nusantara atau Gypsytoes yang berkeliling Eropa. Tapi cara mereka berdua mendeskripsikannya, bagai minum es kelapa muda di siang terik Jakarta. Segar!

Saat Twosocks mengisahkan Merauke dalam ‘Salam dari Timur’, senyumku melebar. Ini adalah kisah pertama dan tak secuil pun bernada hiperbolis. Twosocks mengesampingkan segala ‘how to’ ‘where to’ dan unsur keindahan, menggantinya dengan perbandingan, pertanyaan. Sebuah kontemplasi, yang kemudian kusadar ada di tiap kisah di buku ini.

Aku suka cara Gypsytoes menarik pembaca untuk melihat sebuah tempat dari sudut pandangnya. Bagaimana toko buku Shakespeare and Co lebih menarik dari Menara Eiffel. Bagaimana persahabatan menjadi inti perjalanannya ke Portugal. Bagaimana ruang UGD jadi ‘destinasi’-nya di Roma.

Gypsytoes adalah orang yang tak mau repot-repot menjelaskan apa itu Manneken Pis. Dia memaksa kita, dengan cara yang manis, mengetahui kisah-kisah di baliknya.

Arip Syaman! Betapa kisah sahabat Twosocks itu membuatku terbahak. Diceritakan dengan jujur dan tak melebih-lebihkan, naik Gunung Ciremai saja bisa jadi begitu menghibur. Seperti kubilang barusan, selalu ada kontemplasi. Dalam kisah ‘Arip Syaman, Sahabat yang Ganjil’ aku dibuat kagum atas usaha Arip Syaman menaklukkan mentalnya sendiri.

Kata itu memang tepat untuk mendeskripsikan Arip Syaman. Ganjil.

Konsistensi pada tiap cerita patut diacungi jempol. Aku suka benang merah buku ini, ketika kalian selalu bertukar cerita tiap akhir perjalanan. Termasuk komentar Gypsytoes tentang perjalanan Twosocks, pun sebaliknya. Kisah di Bangalore, pas di bagian tengah buku, lantas menjadi favoritku.

Mereka ibarat dua seleb Bollywood menari-nari di tengah taman. Asyik saja menari di tengah hujan, sementara Bangalore seperti jadi tamannya saja. Untuk ke sekian kalinya, destinasi tak memegang peran utama.

Aku kagum saat rutinitas Gypsytoes diceritakan oleh Twosocks. Tentang tesisnya, perkumpulan Blank Noise-nya, yang Gypsytoes sendiri hanya menceritakannya sambil lalu. Kehadiran Twosocks lebih menarik bagi Gypsytoes untuk diceritakan.

Namun yang namanya buku perjalanan, tak berarti hal-hal seputar destinasi dilewatkan. Gypsytoes dan Twosocks tetap mengisahkan kota-kota yang mereka datangi. Paris, Praha, Palermo, Roma, Baduy, Merauke, Siprus, Taipei, sampai Singaraja yang adalah kota asal Twosocks.

Duo pejalan ini menyadarkanku, untuk ke sekian kalinya, perjalanan bukanlah sesuatu yang dilakukan sambil lalu. Selalu ada hal baru. Meski kita mendatanginya berulang-ulang; meski kota itu adalah tempat tinggal kita sendiri.

‘The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana’ kini masuk dalam daftar buku perjalanan berbahasa Indonesia favoritku. Selain tentunya ‘Selimut Debu’, ‘Garis Batas’ dan ‘Titik Nol’ yang semuanya karangan Agustinus Wibowo.

Advertisements

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s