Month: October 2014

Randy

P1060497

I don’t know where to start so I’m seeing your face, right now, covered by dark brown jacket and blue hat you always wear to get warm. This picture moves like puzzles in my mind, Randy, I remember that night you found me in such a mess condition. There was a slight spark in your eyes finding your guest arrived safely at the inn. It’s late, too late at night and the cold was such a sting. I was shaking.

“I know you’re going to make it. I emailed you few times today but no response. But somehow I know you’re on your way, that’s why I asked my brother to wait and pick you up on the street. I know you’re not going to give up.”

—————–

Oh, you’re such a father. No wonder all citizen of Banaue knows your existence. There was always a huge smile when I told them, “I’m staying at Randy’s Brookside Inn.”

Banaue, Philippines. A tiny, laid back town with one of the best landscape I ever see: world’s oldest rice terraces. The next day, I remember you made me a full plate of toast, eggs, and freshly cut tomatoes. You said it’s gonna be a tiring day.

A trip to Batad Rice Terraces took the whole day. My feet got stiff because it was raining all day. At the end of the day I found you standing at the door, a little panicky.

“Thank God you made it. It’s Haiyan typhoon!”

—————–

I became a lazy, lazy Cinderella the next day. It was raining all day and all I can do is doing nothing. We spent hours and hours watching TV, having conversations while the rain pours heavily, sipping cups and cups of hot tea. We found Philippinos and Indonesian pretty much had a lot of common.

Twenty five, I said, when you asked about my age. It was my first time in Philippines and traveled alone. You’re about 50-s and a father of four. You started showing pictures of your wife, sons and daughter. Your children were studying in Manila. You love them, and you miss them so much. I could hear it from your tone.

“But you, your presence just like my own daughter, Sastri. Please keep in touch, and come back here.”

You said that on my last day in Banaue. I said yes.

“Someday, with my husband. We’ll come back for you.”

Review Buku (yang Sangat Subjektif Karena Saya Suka): ‘The Dusty Sneakers’

photo

“Jika kau ingin mengetahui apakah seseorang mencintai buku, lihatlah sisi tempat tidurnya. Saat-saat menjelang tidur akan dia isi dengan membaca. Terkadang, dia lupa bahwa buku yang dibaca pada malam sebelumnya telah menunggu di nakas atau tergolek di sisi bantal.”

Begitu kata Gypsytoes dalam ‘Menyapa Shakespeare di Paris’, sebuah kisah tentang kunjungannya ke toko buku termasyhur Shakespeare and Co. Tahukah kamu, Gypsytoes, aku seharusnya bisa melahap bukumu dan Twosocks dalam sekali baca jika tidak karena tertidur. Seperti katamu barusan, buku itu tergolek di sisi bantal.

Namun bagiku ini adalah anomali. Obsessive-compulsive Disorder; tak ada satu barang pun yang tidak kusimpan pada tempatnya. Saat menemukan buku itu tergolek, acakadut tanpa pembatas pagi harinya, nyengirku mengembang seperti Joker lagi kasmaran.

‘The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana’. Buku ini begitu menghipnotis. Perjalanan memang jadi intinya, tapi yang membuatku kagum, adalah cara Maesy Ang (Gypsytoes) dan Teddy W Kusuma (Twosocks) menceritakannya dengan romantis.

Oh, betapa perjalanan bisa membuat seseorang menjadi begitu manis. Dua insan (sahabat, begitu mereka bilang secara berulang-ulang di buku ini :p) saling bertukar cerita dan pikiran dari masing-masing tempat yang dipijak. Sebenarnya tempat-tempat itu menurutku biasa saja, baik Twosocks yang menjelajah Nusantara atau Gypsytoes yang berkeliling Eropa. Tapi cara mereka berdua mendeskripsikannya, bagai minum es kelapa muda di siang terik Jakarta. Segar!

Saat Twosocks mengisahkan Merauke dalam ‘Salam dari Timur’, senyumku melebar. Ini adalah kisah pertama dan tak secuil pun bernada hiperbolis. Twosocks mengesampingkan segala ‘how to’ ‘where to’ dan unsur keindahan, menggantinya dengan perbandingan, pertanyaan. Sebuah kontemplasi, yang kemudian kusadar ada di tiap kisah di buku ini.

Aku suka cara Gypsytoes menarik pembaca untuk melihat sebuah tempat dari sudut pandangnya. Bagaimana toko buku Shakespeare and Co lebih menarik dari Menara Eiffel. Bagaimana persahabatan menjadi inti perjalanannya ke Portugal. Bagaimana ruang UGD jadi ‘destinasi’-nya di Roma.

Gypsytoes adalah orang yang tak mau repot-repot menjelaskan apa itu Manneken Pis. Dia memaksa kita, dengan cara yang manis, mengetahui kisah-kisah di baliknya.

Arip Syaman! Betapa kisah sahabat Twosocks itu membuatku terbahak. Diceritakan dengan jujur dan tak melebih-lebihkan, naik Gunung Ciremai saja bisa jadi begitu menghibur. Seperti kubilang barusan, selalu ada kontemplasi. Dalam kisah ‘Arip Syaman, Sahabat yang Ganjil’ aku dibuat kagum atas usaha Arip Syaman menaklukkan mentalnya sendiri.

Kata itu memang tepat untuk mendeskripsikan Arip Syaman. Ganjil.

Konsistensi pada tiap cerita patut diacungi jempol. Aku suka benang merah buku ini, ketika kalian selalu bertukar cerita tiap akhir perjalanan. Termasuk komentar Gypsytoes tentang perjalanan Twosocks, pun sebaliknya. Kisah di Bangalore, pas di bagian tengah buku, lantas menjadi favoritku.

Mereka ibarat dua seleb Bollywood menari-nari di tengah taman. Asyik saja menari di tengah hujan, sementara Bangalore seperti jadi tamannya saja. Untuk ke sekian kalinya, destinasi tak memegang peran utama.

Aku kagum saat rutinitas Gypsytoes diceritakan oleh Twosocks. Tentang tesisnya, perkumpulan Blank Noise-nya, yang Gypsytoes sendiri hanya menceritakannya sambil lalu. Kehadiran Twosocks lebih menarik bagi Gypsytoes untuk diceritakan.

Namun yang namanya buku perjalanan, tak berarti hal-hal seputar destinasi dilewatkan. Gypsytoes dan Twosocks tetap mengisahkan kota-kota yang mereka datangi. Paris, Praha, Palermo, Roma, Baduy, Merauke, Siprus, Taipei, sampai Singaraja yang adalah kota asal Twosocks.

Duo pejalan ini menyadarkanku, untuk ke sekian kalinya, perjalanan bukanlah sesuatu yang dilakukan sambil lalu. Selalu ada hal baru. Meski kita mendatanginya berulang-ulang; meski kota itu adalah tempat tinggal kita sendiri.

‘The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana’ kini masuk dalam daftar buku perjalanan berbahasa Indonesia favoritku. Selain tentunya ‘Selimut Debu’, ‘Garis Batas’ dan ‘Titik Nol’ yang semuanya karangan Agustinus Wibowo.