Month: September 2014

Memberi Makan Danau

k1

Manusia memadati pelataran parkir Taman Nasional Kelimutu. Sudah pukul 13.00 Wita, saatnya acara makan-makan dan menari bersama. Namun cuaca yang awalnya luar biasa cerah berubah sendu. Dalam sekejap kabut turun, menyelimuti pandangan, menyeruak di antara pepohonan.

Arwah sudah turun,” bisik salah satu Mosalaki.

k6

Mereka adalah orang-orang terpilih. Para Mosalaki, alias pemangku adat Suku Lio, melakukan persiapan tak biasa hari itu. Sebagai penghuni kaki Gunung Kelimutu di Flores, NTT, mereka akan melakukan upacara paling sakral yang dilakukan tiap 14 Agustus: Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata.

Memberi sesaji kepada arwah leluhur, begitu sekiranya arti Pati Ka. Waktu memasuki pukul 09.00 Wita. Berbalut tenun ikat Flores, 17 Mosalaki berbaris dua-dua. Mereka membawa sesaji berupa sirih, pinang, rokok, nasi, daging, dan tuak. Semuanya berwadah batok kelapa.

Seorang Mosalaki berdiri di paling depan, memimpin rombongan. Dia memegang gong sambil sesekali menabuhnya, mohon izin agar dilancarkan jalannya. Pagi itu, suara kicauan burung sangat riuh. ‘Burung arwah‘, begitu Suku Lio menyebutnya. Burung yang sangat jarang terlihat, hanya kicauannya yang terdengar.

Langkah demi langkah, para Mosalaki naik ke pelataran sebelum puncak. Melepas alas kaki, mengelilingi batu keramat.

k8

k9

k10

Sesaji itu ditujukan kepada arwah leluhur yang konon menghuni 3 danau: Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nua Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Polo. Tiga danau yang bisa berubah warna tanpa penjelasan masuk akal. Tak ada seorang pun, termasuk para Mosalaki, yang pernah melihatnya berubah warna.

Selalu berlangsung saat malam, kabut tebal lebih dulu menutupinya,” kata Mosalaki Emanuel Kunu Ndopo.

Mantra, puji-pujian dan kalimat adat dilontarkan salah satu Mosalaki. Diucapkan secara lantang, suaranya menggema di udara. Mereka kemudian duduk mengelilingi batu keramat, menaruh sesaji, kemudian bergantian minum tuak.

Para Mosalaki serentak berdiri. Berpegangan tangan, kemudian mulai menari Gawi. Tak ada gerakan yang berarti, hanya hentakan kaki namun berpola rumit. Kalimat dan nyanyian adat kembali menggema. Para pengunjung diam meski bersimbah sinar matahari. Cuaca masih cerah sampai turunnya para Mosalaki.

k5

Tidak apa-apa. Lihat, berhenti di sana,” celetuknya.

Mosalaki itu mengerahkan telunjuk ke pinggir pelataran parkir. Layaknya magis, kabut tebal seakan terhenti di sana. Hanya kabut tipis yang menjalar masuk.

Pukul 13.00 Wita. Lautan manusia yang menjadi saksi jalannya upacara Pati Ka mulai duduk di terpal untuk makan bersama. Para mama Suku Lio sudah memasak nasi, daging ayam, dan daging babi dalam jumlah besar sejak pagi buta. Tiap pengunjung boleh makan. Turis asing sumringah melahap sepiring nasi dan semangkuk olahan daging.

Para Mosalaki kemudian kembali membentuk lingkaran. Menari Gawi, diikuti oleh warga lainnya. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, turis asing dan lokal, berbaur untuk menari bersama. Udara yang menggigit kulit tak lagi terasa. Canda dan tawa membaur di udara.

k7

Pikiran saya melanglangbuana ke atas sana. Naik ke puncak Kelimutu, menerawang ketiga danau yang saat itu berwarna biru-biru-hitam. Di tengah kabut tebal, mungkin arwah leluhur juga sedang berpesta.

k1

k3

k4

Advertisements