Di Balik Cadar

Image

Saya selalu suka perasaan itu. Tak dikenali, meski identitas secara umum masih terlihat lewat fisik. Muka Indonesia ini selalu saru dengan Malaysia karena jilbab di kepala. Tapi selain itu, tak ada yang peduli siapa saya.

Berapa umur saya. Apa pekerjaan saya. Di mana saya tinggal. Apakah saya baik, atau justru tidak.

Perasaan seperti itulah, tak dikenali, yang membuat saya candu akan perjalanan.

**********

Pertanyaan ini sudah melekat di kepala bertahun-tahun lamanya. Seperti apa rasanya hidup di balik cadar? Memakai pakaian serba hitam, dengan kain tipis yang hanya terbuka di bagian mata. Di negara saya yang mayoritas Muslim saja, ‘gumpalan’ hitam itu selalu dilihat dengan sebelah mata. Apa gunanya mengenakan pakaian serba hitam dan panjang, di negara tropis yang mataharinya tambah terik akibat pemanasan global?

Hingga akhirnya di Tanah Suci, pertanyaan itu terjawab.

Mekah, 41 derajat Celcius. Mata saya memicing ke arah jalanan penuh debu akibat pembangunan yang tak kunjung rampung. Tangan saya sigap merogoh tas, mencari kacamata hitam. Kemudian masker. Lalu topi untuk melindungi kepala.

Dengan pakaian yang serba longgar, hampir tak ada bagian tubuh yang terlihat saat itu. Kecuali telapak tangan, juga sedikit bagian antara hidung dan mata. Saya berjalan di antara ribuan, puluhan ribu, wanita berpakaian serupa.

I feel invisible. Sebuah perasaan tak dikenali yang sangat nyaman; perasaan aman yang tak bisa diungkapkan. Alih-alih paras, tak ada yang melihat saya karena lekukan tubuh atau kulit sawo matang khas Asia.

Di mana orang lain berbuat baik tanpa melihat cantik atau tidaknya paras saya. Menolong dengan tulus tanpa menimbang berapa banyak harta yang saya punya. Tanpa peduli dari mana saya berasal. Berapa umur saya. Apakah saya baik, atau justru tidak.

Perasaan yang membuat candu, sama dengan yang saya dapatkan pada sebuah perjalanan.

Dan sekarang saya tahu, apa rasanya hidup di balik cadar. Meski nyatanya, saya belum akan memakainya sekarang. Itu justru membuat saya lebih dikenali, apalagi bagi orang-orang yang seringkali menutup sebelah matanya.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s