Nenek Moyang Sawah

ImageSinar matahari mulai menembus kelopak mata, memaksa untuk segera membuka. Suara bising kereta mulai terdengar, makin lama makin kencang.

“Sudah sampai mana kita, Pak?”

Ayah mendongak dari balik koran yang tengah dibacanya. Kacamata pun dilepasnya, tanda mulai mengantuk. Alisnya mengangkat tanda tak tahu.

“Tadi waktu tidur, di luar sawah. Sekarang pas bangun, sawah lagi,” kataku.

Ia tersenyum sambil menghela nafas. Melipat koran, menunjuk ke arah luar jendela.

“Soalnya selain kepulauan, Indonesia juga negara agraris, Sastri. Di Jawa kamu pasti lihat undakan sawah seperti itu di mana-mana. Dulu sawah itu dibawa dari China, kemudian Filipina.”

Anak perempuan kelas 3 SD itu bengong dibuatnya. Bagaimana bisa sawah dibawa-bawa? Di mana pula Filipina?

Tapi percakapan di Argo Parahyangan hari itu, membawa si anak langsung ke tanah leluhur para pemahat lembah. Pembuat undakan sawah tertua di dunia. Jauh di pedalaman Filipina, belasan tahun berikutnya.

Image

8 November 2013,

Saya berusaha keras untuk bangun dari kasur. Perjalanan sehari-semalam dari Jakarta hari sebelumnya, lewat jalur udara dan berbagai macam transportasi darat, membuat badan sakit-sakit dan kepala pusing bukan kepalang. Beruntung Randy’s Brookside Inn, guesthouse murah dan nyaman yang saya tinggali punya shared bathroom dengan pancuran air panas.

Suhu pagi itu 17 derajat Celcius di Banaue, North Luzon. Randy, begitu nama pemilik guesthouse, membuatkan sepiring roti bakar dengan telur mata sapi dan tomat. Dia mengambil peta, menunjukkan tempat yang akan dituju hari itu.

“Batad Rice Terraces is about 12 kilometres from here.”

Tangannya menunjuk ke arah utara Banaue, masih di deretan Pegunungan Coldilerra.

“You can go by tricycle, 700 Peso for two way around, and do a trekking by yourself for about 6-7 hours. You better prepare, this trip will take a whole day.”

Tricycle yang saya tumpangi meliuk di jalan berliku. Tanjakan, turunan, rusak di beberapa tempat. Dari kaki bukit, saya harus trekking sekitar 1 jam sampai ke pintu masuk Batad Rice Terraces. Beberapa rombongan turis asing melintas, mereka menyewa jeepney.

Anggaplah trekking naik bukit itu sebagai pemanasan. Pintu masuk ke Batad Rice Terraces hanya berupa jalan setapak di pinggir warung penjual makanan dan suvenir. Tiga jam berikutnya saya habiskan melewati turunan terjal, meliuk di trek yang mengular, melompati air terjun kecil yang jernih dan segar.

Dan tersesat.

Meski tidak diamini, imbauan ‘get lost‘ itu saya alami juga. Hujan mulai turun, sementara Topan Haiyan mengamuk di bagian selatan sana. Jalan itu mulanya bercabang, kemudian bercabang lagi, lagi, lagi.. Saya sendirian, di tengah lembah, di tengah badai. Langit menangis kencang saat saya tersesat.

Sampai saya menemukan Health Centre di lokasi antah-berantah. Seorang pria lokal berbaik hati menuntun saya ke jalan yang benar, menuju Tourist Information Center.

Liliana, begitu nama petugas Batad Tourist Information Center, berlari begitu melihat saya dari kejauhan. Kedua lengan saya dipegangnya erat. Air mukanya khawatir.

Are you okay? It’s a storm!

Saya nyengir. Liliana menuntun saya ke gubuk kecil dari kayu, tempat turis mendaftar dan menulis nama di buku tamu. Wanita manis itu tersenyum riang saat menyadari saya dari Indonesia. Dia tak ingat kapan orang Indonesia terakhir menginjak tanah leluhurnya.

Image

Image

Image

Image

Liliana adalah seorang Ifugao. Nenek moyangnya, suku asli Ifugao, datang dari Provinsi Yunnan di Cina. Mereka kemudian mencari lahan untuk menanam padi, sesuai ajaran orang-orang terdahulu di tanah Tiongkok. Namun lahan yang mereka duduki saat itu adalah lereng Pegunungan Coldilerra.

Jadilah pesawahan itu diukir di lembah dan perbukitan. Irigasi didapat dari Tappia Waterfall di atas bukit, mengalir ke beberapa sungai yang kemudian bercabang. Para Ifugao adalah headhunter, mereka berperang dan memenggal kepala musuh. Di saat bersamaan mereka juga pemahat ulung. Soal memahat kayu, Suku Ifugao sama mahirnya dengan memahat bukit.

Sudah pukul 12.00 waktu setempat dan perut mulai keroncongan. Liliana mengantar saya ke Rita’s Hillside Inn and Restaurant, tepat seperti saran Randy. Penginapan merangkap restoran sederhana itu punya banyak menu halal, termasuk charpati (roti mirip pita atau nan). Tak butuh waktu lama untuk seporsi Charpati with Cheese and Tomato masuk ke perut saya.

Rita, wanita yang juga keturunan asli Ifugao menemani saya makan siang. Hujan deras masih mengguyur, saya menggigil kedinginan. Namun tak ada yang menghalangi pemandangan siang itu: undakan sawah tertua sedunia.

ImageImageImageImageBatad Rice Terraces disinyalir sudah ada 2.000 tahun silam. UNESCO mendaulatnya sebagai World Heritage Site pada 1995. Dari atas sini, Batad Rice Terraces tampak seperti tangga berkarpet hijau yang menjulang ke atas bukit. Meski kabut senantiasa menggantung di puncak-puncaknya.

Berteman seorang warga lokal, saya turun di tengah guyuran hujan.  Melewati undakan-undakan sawah berpagar batu, sebuah ciri khas yang hanya dimiliki Batad.

Enam jam berikutnya saya habiskan di Batad Rice Terraces, sekaligus trekking untuk kembali ke atas bukit. Hujan masih mengguyur, kaki setengah kram. Dua turis pria asal Slovenia dengan baik hati membantu saya berjalan, kembali ke pintu masuk Batad Rice Terraces.

Image

ImageImage

Hujan masih mengguyur Banaue sampai keesokan harinya. Berbekal payung pinjaman Randy, saya bertolak ke pasar tradisional dan Banaue Museum. Di sanalah saya temukan fakta itu:

“Ifugao people migrated to southern islands in the Philippines, then to Indonesia. They brought the carving-mountain ability to Java and Lesser Sunda Islands, which become the main identity in Indonesia currently.”

I knew it, Dad! 🙂

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s