Month: December 2013

A Better Partner

Image

Traveling wasn’t always bring a happy ending. But it always make you a better person.

Kemarin, Universal Studios Singapore tampak begitu ceria. Kami tertawa lepas, berfoto di banyak tempat, naik semua wahana dan teriak sampai suara penghabisan. Sulit dipercaya malam ini kami kembali lagi, ke tempat yang sama, air mata membanjir di kedua pipi teman traveling saya.

*********************************************************************************************************************************

Ema menangis tertahan. Antara panik, takut, sedih, dan bertanya-tanya bagaimana cara dia pulang. Semua dokumen pentingnya: paspor, uang, KTP, SIM, NPWP, tiket pesawat, dan lain-lain, disimpannya dalam satu dompet. Dan dompet itu hilang.

Mungkin tercecer, mungkin juga diambil orang. Entahlah, merunut ke belakang sudah tak penting sekarang. Kami bersimpuh dengan tas masing-masing di depan Universal Studios, tepat pukul 22.00 malam.

Yakin dompetnya tak terselip, saya menggeret Ema ke depan Casino dan melapor ke petugas keamanan setempat. Tak ada waktu untuk drama, kami harus pulang esok dini hari. Pukul 05.45, begitu yang tertera di tiket pesawat yang ikut hilang.

Head of Security Resort World Sentosa menanyai kronologis hilangnya dompet Ema. Zul, begitu nama panggilannya, mengerahkan pasukannya untuk sweeping di tempat-tempat yang kami datangi sebelumnya. Saya dan Ema dititipkan ke tempat peristirahatan murah di kawasan yang sama.

Pukul 03.00 dini hari, dan tak ada tanda-tanda ditemukannya dompet Ema. Zul kemudian menulis surat kehilangan beserta secarik kertas, dengan tulisan alamat-alamat yang kami butuhkan. Kantor polisi terdekat, KBRI, dan nomor ponsel pribadinya jika kami butuh bantuan.

Otomatis Ema akan membatalkan penerbangan pagi itu. Me? I won’t leave her alone. I’ll buy another ticket later.

*********************************************************************************************************************************

Dini hari itu kami habiskan dengan membuat surat kehilangan di kantor polisi, kemudian tidur sejenak di pos satpam KBRI. Seharian Ema mengurus surat-surat di Immigration & Checkpoints Authority of Singapore (ICA). Kemudian kembali lagi ke KBRI, membuat paspor sementara, kembali lagi ke ICA sebelum bisa pulang ke Tanah Air.

Tapi urusan tak semulus seharusnya. Paspor sementara tak bisa jadi hari itu, kami harus menunggu 1 hari lagi. Ema mengatakannya dengan bibir bergetar, saya yakin dia menangis sebelumnya.

Saya dibesarkan dengan sikap dan pikiran logis, paling tidak suka berdrama-drama. Tapi menyadari fakta bahwa saya harus meninggalkan partner traveling seorang diri, ada rasa sedih yang memaksa air mata untuk mengalir.

*********************************************************************************************************************************

And it hurts. It really hurts. Tangis itu membuncah di taksi, saya tak tega meninggalkan Ema seorang diri. Tapi Ema memastikan ia punya tempat untuk bermalam, juga uang saku untuk berbagai keperluan.

Ema mengantar saya ke Bandara Changi. Membeli tiket untuk boarding secepatnya, sementara ia bertolak ke rumah teman kakaknya untuk menginap.

Perasaan sedih itu senantiasa hinggap. Banyak hal yang saya sesali: tidak memerhatikan kondisi sekitar, tidak mengingatkan Ema soal barang-barangnya, tidak bisa menemaninya lebih lama. Saya menyesali perjalanan kali ini tak berujung manis, meski hari-hari sebelumnya penuh canda tawa.

Tapi biarlah perjalanan kemarin jadi pelajaran. Let me be a better person, better partner while traveling. Can’t wait for our next trip, Em! 🙂

For (Not) Only Being A Traveler

Image

I started to think, it’s not right anymore for only being a traveler.

I do like to go somewhere, I travel quite hard. But what I realized then, being a traveler wasn’t enough. I want more time, to know a lot more about the destinations. Not only strolling down into it, having conversations with the locals, tasting foods, or having a responsible journey.

The more I travel, the more I realize this. I found traveling is only become the way I get what I wanted. And what I want is not traveling; but to know and help people. To give more and doing something useful for them. Not only come and go.

Many kind of profession suits that. Archeologist, biologist, doctor, anthropologist, volunteer… I think I’m going to search one that suits me best.

Being in a rural area with the locals brought me unbearable happiness. Makes me grateful for every single piece, doesn’t matter our differences are uncountable.

So the beauty of a place itself, the richness, and the stories, are just a bonus.

Nenek Moyang Sawah

ImageSinar matahari mulai menembus kelopak mata, memaksa untuk segera membuka. Suara bising kereta mulai terdengar, makin lama makin kencang.

“Sudah sampai mana kita, Pak?”

Ayah mendongak dari balik koran yang tengah dibacanya. Kacamata pun dilepasnya, tanda mulai mengantuk. Alisnya mengangkat tanda tak tahu.

“Tadi waktu tidur, di luar sawah. Sekarang pas bangun, sawah lagi,” kataku.

Ia tersenyum sambil menghela nafas. Melipat koran, menunjuk ke arah luar jendela.

“Soalnya selain kepulauan, Indonesia juga negara agraris, Sastri. Di Jawa kamu pasti lihat undakan sawah seperti itu di mana-mana. Dulu sawah itu dibawa dari China, kemudian Filipina.”

Anak perempuan kelas 3 SD itu bengong dibuatnya. Bagaimana bisa sawah dibawa-bawa? Di mana pula Filipina?

Tapi percakapan di Argo Parahyangan hari itu, membawa si anak langsung ke tanah leluhur para pemahat lembah. Pembuat undakan sawah tertua di dunia. Jauh di pedalaman Filipina, belasan tahun berikutnya.

Image

8 November 2013,

Saya berusaha keras untuk bangun dari kasur. Perjalanan sehari-semalam dari Jakarta hari sebelumnya, lewat jalur udara dan berbagai macam transportasi darat, membuat badan sakit-sakit dan kepala pusing bukan kepalang. Beruntung Randy’s Brookside Inn, guesthouse murah dan nyaman yang saya tinggali punya shared bathroom dengan pancuran air panas.

Suhu pagi itu 17 derajat Celcius di Banaue, North Luzon. Randy, begitu nama pemilik guesthouse, membuatkan sepiring roti bakar dengan telur mata sapi dan tomat. Dia mengambil peta, menunjukkan tempat yang akan dituju hari itu.

“Batad Rice Terraces is about 12 kilometres from here.”

Tangannya menunjuk ke arah utara Banaue, masih di deretan Pegunungan Coldilerra.

“You can go by tricycle, 700 Peso for two way around, and do a trekking by yourself for about 6-7 hours. You better prepare, this trip will take a whole day.”

Tricycle yang saya tumpangi meliuk di jalan berliku. Tanjakan, turunan, rusak di beberapa tempat. Dari kaki bukit, saya harus trekking sekitar 1 jam sampai ke pintu masuk Batad Rice Terraces. Beberapa rombongan turis asing melintas, mereka menyewa jeepney.

Anggaplah trekking naik bukit itu sebagai pemanasan. Pintu masuk ke Batad Rice Terraces hanya berupa jalan setapak di pinggir warung penjual makanan dan suvenir. Tiga jam berikutnya saya habiskan melewati turunan terjal, meliuk di trek yang mengular, melompati air terjun kecil yang jernih dan segar.

Dan tersesat.

Meski tidak diamini, imbauan ‘get lost‘ itu saya alami juga. Hujan mulai turun, sementara Topan Haiyan mengamuk di bagian selatan sana. Jalan itu mulanya bercabang, kemudian bercabang lagi, lagi, lagi.. Saya sendirian, di tengah lembah, di tengah badai. Langit menangis kencang saat saya tersesat.

Sampai saya menemukan Health Centre di lokasi antah-berantah. Seorang pria lokal berbaik hati menuntun saya ke jalan yang benar, menuju Tourist Information Center.

Liliana, begitu nama petugas Batad Tourist Information Center, berlari begitu melihat saya dari kejauhan. Kedua lengan saya dipegangnya erat. Air mukanya khawatir.

Are you okay? It’s a storm!

Saya nyengir. Liliana menuntun saya ke gubuk kecil dari kayu, tempat turis mendaftar dan menulis nama di buku tamu. Wanita manis itu tersenyum riang saat menyadari saya dari Indonesia. Dia tak ingat kapan orang Indonesia terakhir menginjak tanah leluhurnya.

Image

Image

Image

Image

Liliana adalah seorang Ifugao. Nenek moyangnya, suku asli Ifugao, datang dari Provinsi Yunnan di Cina. Mereka kemudian mencari lahan untuk menanam padi, sesuai ajaran orang-orang terdahulu di tanah Tiongkok. Namun lahan yang mereka duduki saat itu adalah lereng Pegunungan Coldilerra.

Jadilah pesawahan itu diukir di lembah dan perbukitan. Irigasi didapat dari Tappia Waterfall di atas bukit, mengalir ke beberapa sungai yang kemudian bercabang. Para Ifugao adalah headhunter, mereka berperang dan memenggal kepala musuh. Di saat bersamaan mereka juga pemahat ulung. Soal memahat kayu, Suku Ifugao sama mahirnya dengan memahat bukit.

Sudah pukul 12.00 waktu setempat dan perut mulai keroncongan. Liliana mengantar saya ke Rita’s Hillside Inn and Restaurant, tepat seperti saran Randy. Penginapan merangkap restoran sederhana itu punya banyak menu halal, termasuk charpati (roti mirip pita atau nan). Tak butuh waktu lama untuk seporsi Charpati with Cheese and Tomato masuk ke perut saya.

Rita, wanita yang juga keturunan asli Ifugao menemani saya makan siang. Hujan deras masih mengguyur, saya menggigil kedinginan. Namun tak ada yang menghalangi pemandangan siang itu: undakan sawah tertua sedunia.

ImageImageImageImageBatad Rice Terraces disinyalir sudah ada 2.000 tahun silam. UNESCO mendaulatnya sebagai World Heritage Site pada 1995. Dari atas sini, Batad Rice Terraces tampak seperti tangga berkarpet hijau yang menjulang ke atas bukit. Meski kabut senantiasa menggantung di puncak-puncaknya.

Berteman seorang warga lokal, saya turun di tengah guyuran hujan.  Melewati undakan-undakan sawah berpagar batu, sebuah ciri khas yang hanya dimiliki Batad.

Enam jam berikutnya saya habiskan di Batad Rice Terraces, sekaligus trekking untuk kembali ke atas bukit. Hujan masih mengguyur, kaki setengah kram. Dua turis pria asal Slovenia dengan baik hati membantu saya berjalan, kembali ke pintu masuk Batad Rice Terraces.

Image

ImageImage

Hujan masih mengguyur Banaue sampai keesokan harinya. Berbekal payung pinjaman Randy, saya bertolak ke pasar tradisional dan Banaue Museum. Di sanalah saya temukan fakta itu:

“Ifugao people migrated to southern islands in the Philippines, then to Indonesia. They brought the carving-mountain ability to Java and Lesser Sunda Islands, which become the main identity in Indonesia currently.”

I knew it, Dad! 🙂