Pacuan Kuda Pedalaman Atambua

Image

“Yang menang pacuan kuda berarti paling tangguh dibanding semua yang tangguh. Di sini, kuda sama pentingnya dengan keluarga. Kuda dan joki yang tangguh, berarti keduanya dididik dengan baik.”

ImageAlex Un menerawang, rasa bangga terpancar dari matanya. Masa-masa menjadi joki sudah lewat, begitu pun waktu-waktu menurunkan kemampuan berkuda kepada anaknya.

“Lihat, itu kuda dari Timor Leste.”

Ia menunjuk ke arah lintasan. Seekor kuda beserta pelepasnya sudah masuk ke sana. Gadis Mata-mata, begitu nama kuda itu, bertubuh cokelat muda dan cokelat tua. Cukup ‘bule‘ di antara kuda-kuda lain yang semuanya cokelat gelap.

Tepat pukul 12.00 Wita saat pacuan kuda di Desa Tniumanu dimulai. Ada 14 babak hari itu, dengan total 120 kuda yang ikut serta. Ini adalah hari terakhir sebelum final,  pacuan sudah digelar mulai 4 hari sebelumnya.

Saya kagum melihat tribun penonton yang mulai penuh. Tniumanu bukanlah desa yang mudah dijangkau, butuh 2-3 jam perjalanan dari Kota Atambua. Itu pun harus melewati jalan beraspal bolong-bolong, kemudian jalan tanah yang cukup rusak.

Image

Image

Lima kuda telah siap di garis start. Para pelepas menyerahkan kuda mereka kepada joki masing-masing.

Semua joki adalah anak laki-laki.

“Di sini ibaratnya, anak laki-laki belajar berjalan bersamaan dengan belajar berkuda.”

Anak-anak pemberani itu masih sangat kecil, mungkin sekitar 5-7 tahun. Mereka duduk tanpa pelana. Mengecup bagian belakang kepala kuda sebelum berlomba. Mengelus leher kuda yang sudah tak sabar berpacu di lintasan.

Lintasan pacuan kuda itu berbentuk oval sepanjang 1 Km, memutar luas di tengah lanskap gersang. Dari titik start, tribun penonton tampak mungil di ujung sana. Kuda dengan tinggi 140-170 cm berlomba di lintasan 600 meter. Kuda-kuda setinggi 180-190 meter berlomba di lintasan 800 meter. Sementara kuda yang tingginya mencapai 2 meter, mengelilingi 1 lintasan penuh.

“Yang besok jadi pemenang, hadiahnya tak banyak. Tapi rasa bangganya membekas sampai anak cucu,” kata Alex, tersenyum.

Image

ImageImageKuda dan joki yang tangguh, berarti keduanya dididik dengan baik. Seperti kata Alex Un,

“Apa yang kita punya, bisa jadi semua orang juga punya. Tapi yang kita punya, harus kita jaga. Harus kita sayang. Tinggal bagaimana caranya jadi yang terbaik, dengan apa yang kita punya.”

Image

Advertisements

4 comments

  1. waduh..membayangkan anak2 kecil itu duduk tanpa pelana apa tidak sakit ya?
    btw, kata2 terakhir yang ini “Apa yang kita punya, bisa jadi semua orang juga punya. Tapi yang kita punya, harus kita jaga. Harus kita sayang. Tinggal bagaimana caranya jadi yang terbaik, dengan apa yang kita punya” aku suka banget 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s