Sang Pawang Arwana

Image

“Kalau mau lihat yang besar, beli pakannya. Lima ribu,” dia berkata cetus. Tubuhnya kurus, tidak tinggi, kulitnya cokelat dan rambutnya cepak. Seragam bertuliskan ‘Hutan Wisata Mata Kucing’ yang dipakainya sudah agak lusuh. Tapi ikat pinggang masih bertengger gagah di pinggangnya.

Saya menciut. Tangan saya masih menunjuk ke arah kolam, mencari jejak Arwana Araipama Gigas yang panjangnya sampai 2 meter. Di kolam alami ini, ada 4 arwana raksasa yang seliweran. Mereka hanya muncul ke permukaan kalau diumpan dengan pakan.

Saya mulai merogoh dompet. Petugas itu sigap memotong pakan arwana, ikan kecil seperti sepat, dan memasukkannya ke dalam kantong. Dipegangnya kantong itu sambil berjalan melewati saya. Saya balik badan. Secepat kilat dia melempar potongan ikan ke dalam kolam.

Image

Bushh! Begitu bunyinya. Seperti ada ledakan dari dalam kolam, disertai semburan air setelahnya. “Itu dia,” katanya, masih dengan nada tinggi yang sama. Benar saja, arwana raksasa bersisik kemerahan itu muncul perlahan ke permukaan kolam. Mulutnya mangap-mangap minta makan.

Pakan dilempar, arwana raksasa itu semakin ganas. Berebutan dengan arwana-arwana biasa yang mengelilinginya. Beberapa siswa SMP memerhatikan keganasan mereka dengan seksama. Tapi perhatian saya, sejak tadi, tertuju pada si petugas.

“Bapak namanya siapa?”

Dia kaget, dahinya mulai berkerut.

“Sijay.”

“Umur Bapak berapa?”

“72”

Saya yakin dia asal sebut. Tidak mungkin usia 72 masih segar begitu, meski pipinya tirus dan kerutan di dahinya tampak jelas. Saya menatapnya lekat-lekat. Pak Sijay mulai kikuk, mungkin merasa diinterogasi.

“Dari mana?”

Aha! Kali ini dia yang bertanya. Saya menjawab panjang lebar. Dari Jakarta, Jakarta Selatan. Kantor saya di sana, rumah di Bekasi. Tiap hari bolak-balik lewat jalanan macet. Bosan. Jarang-jarang bisa ke hutan wisata seperti di Batam ini.

Dia mendadak sumringah. “Dari Jakarta? Keluarga saya juga di Jakarta!”

Matanya membesar, senyum tersungging di bibirnya. Tanpa lupa menyemplungkan pakan arwana, dia cerita panjang lebar. Rumahnya di Pasar Minggu. Anaknya dua. Istrinya bidan. Sudah 7 tahun dia sendirian di Batam.

“Sendirian, Pak? Keluarga kenapa nggak diboyong ke sini saja?”

Matanya mulai sayu. “Yah, gak apa-apa lah. Anak saya ada yang sudah kuliah… Dia tahunya saya bisnis di Batam. Mereka nggak tau, saya kerja gini aja dari dulu… Nggak apa-apa pisah, asal anak saya bangga.”

Alisnya terangkat. “Coba Adek kalo jadi anak kuliah, memangnya bangga punya bapak pawang arwana?”

Image

Obrolan itu memanjang, melebar, ke pembicaraan tentang kebanggaan dan masa depan. Kalau kita biasa dengar tentang ‘anak yang membahagiakan orang tua’, Pak Sijay percaya sebaliknya.

“Saya sudah tua, nanti juga mati. Anak saya insyaAllah masih panjang umurnya. Dia yang butuh dibahagiakan, bukan saya.”

Advertisements

4 comments

  1. “Saya sudah tua, nanti juga mati. Anak saya insyaAllah masih panjang umurnya. Dia yang butuh dibahagiakan, bukan saya.”

    Bapak hebat! Ayo kapan2 cari tahu dan wawancara anaknya! Lho?

  2. Serba dilema hidup ini, sang bapak pingin membahagiakan anak tp dengan cara berbohong. tapi itulah cara orang pasti berbeda2.

    Mudah2an suatu saat anak nya banga dan jadi orang agar bisa berkata “SAYA SUKSES SEPERTI INI. MESKIPUN BAPAK SAYA PAWANG ARWANA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s