Bukan Jembatan Biasa

Image “Tempat itu biasa aja, nggak ada apa-apanya.”

Banyak traveler yang bilang begitu, dan saya selalu tidak percaya. Bagaimana mungkin sebuah tempat tak ada apa-apanya? Gurun punya pasir. Laut punya air. Jalan punya aspal, punya tanah, punya cerita tentang penggunanya. Bagi saya tiap tempat punya cerita. Tak ada yang pantas dilewatkan begitu saja.

******************************************************************

Jumat, 7 Juni 2013. Malam pertama di Batam, saya bersikeras mengunjungi Jembatan Barelang. Jembatan yang jadi ikon Batam. Ada 6 jembatan panjang yang menghubungkan pulau-pulau kecil, hingga yang terujung adalah Pulau Galang Baru. Jembatan 1 adalah yang paling ikonik, dengan tiang-tiang tinggi seperti Golden Gate di San Francisco.

“Nggak ada apa-apanya, itu jembatan biasa,” kata seorang wartawan media harian. Saya bersama 2 wartawan lain sedang ikut rombongan Kemenparekraf meliput agenda bisnis wisata di pulau tersebut. Saya tetap bersikeras. Kalau memang itu jembatan biasa, bagaimana bisa dia begitu ikonik?

Image

Sudah pukul 20.30 WIB begitu mobil sampai di Jembatan Barelang. Para penjaja makanan berderet di kiri-kanan. Ada mie ayam, sate padang, bakso, hingga kepiting dan kerang rebus. Para muda-mudi asyik pacaran di sisi luar jembatan. Ya, di sisi luarnya yang hanya selebar 1 meter. Pacaran di luar jembatan begitu, risikonya berabe. Saya mulai googling. Benar saja, hampir tiap tahun ada saja warga yang bunuh diri. Entah karena dimadu, bosan hidup, atau patah hati. Terakhir pada 7 Januari 2013, seorang istri membawa anaknya bunuh diri loncat dari jembatan ini. Suaminya selingkuh.

Image

Inilah tempat rekreasi utama warga Batam. Tak ada tempat hiburan, tak perlu keluar banyak uang, hanya melihat lampu-lampu dari kejauhan. Saat tahun baru hampir tiap meter ada orang pacaran. Nama Barelang adalah singkatan dari tiga pulau besar yakni Batam-Rempang-Galang.

BJ Habibie, waktu masih menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi, menggelontorkan Rp 400 M untuk pembangunan Barelang. Butuh waktu 6 tahun membuat 6 rangkai jembatan ini, dari 1992-1998. Tiap jembatan punya nama, diambil dari raja-raja Melayu-Riau yang pernah berkuasa abad 15-18.

Jembatan pertama yang mirip Golden Gate, bernama Jembatan Tengku Fisabilillah. Kemudian ada Jembatan Narasinga, Jembatan Ali Haji, Jembatan Sultan Zainal Abidin, Jembatan Tuanku Tambusai dan yang terakhir Jembatan Raja Kecil.

Barelang lebih dari sekadar jembatan antar pulau. Tiap pagi, siang, malam, hari kerja, akhir pekan, tahun baru, Barelang dijejali warga lokal. Pemerintah setempat bahkan pernah melarang kendaraan parkir di pinggir jembatan karena takut rubuh. Entahlah.

Image

Image

Begitulah sedikit cerita tentang Barelang. Masih mau bilang tempat ini tak ada apa-apanya?

Advertisements

14 comments

  1. tahun 2010 saya pernah ke sana juga mbak. kondisi di sana mengingatkan saya dengan hal serupa di jembatan mer dan jembatan layang dekat grand city surabaya. sepertinya nggombal di jembatan sedang jadi tren bagi kaum muda mudi yang sedang dimabuk cinta.

  2. Postinganmu emang selalu berbobot & menarik buat disimak, Sas. hehehe.

    Jadi inget, dulu pernah ke Jembatan Barelang waktu SMP. Gak terlalu banyak yang berubah ternyata 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s