Month: June 2013

Sang Pawang Arwana

Image

“Kalau mau lihat yang besar, beli pakannya. Lima ribu,” dia berkata cetus. Tubuhnya kurus, tidak tinggi, kulitnya cokelat dan rambutnya cepak. Seragam bertuliskan ‘Hutan Wisata Mata Kucing’ yang dipakainya sudah agak lusuh. Tapi ikat pinggang masih bertengger gagah di pinggangnya.

Saya menciut. Tangan saya masih menunjuk ke arah kolam, mencari jejak Arwana Araipama Gigas yang panjangnya sampai 2 meter. Di kolam alami ini, ada 4 arwana raksasa yang seliweran. Mereka hanya muncul ke permukaan kalau diumpan dengan pakan.

Saya mulai merogoh dompet. Petugas itu sigap memotong pakan arwana, ikan kecil seperti sepat, dan memasukkannya ke dalam kantong. Dipegangnya kantong itu sambil berjalan melewati saya. Saya balik badan. Secepat kilat dia melempar potongan ikan ke dalam kolam.

Image

Bushh! Begitu bunyinya. Seperti ada ledakan dari dalam kolam, disertai semburan air setelahnya. “Itu dia,” katanya, masih dengan nada tinggi yang sama. Benar saja, arwana raksasa bersisik kemerahan itu muncul perlahan ke permukaan kolam. Mulutnya mangap-mangap minta makan.

Pakan dilempar, arwana raksasa itu semakin ganas. Berebutan dengan arwana-arwana biasa yang mengelilinginya. Beberapa siswa SMP memerhatikan keganasan mereka dengan seksama. Tapi perhatian saya, sejak tadi, tertuju pada si petugas.

“Bapak namanya siapa?”

Dia kaget, dahinya mulai berkerut.

“Sijay.”

“Umur Bapak berapa?”

“72”

Saya yakin dia asal sebut. Tidak mungkin usia 72 masih segar begitu, meski pipinya tirus dan kerutan di dahinya tampak jelas. Saya menatapnya lekat-lekat. Pak Sijay mulai kikuk, mungkin merasa diinterogasi.

“Dari mana?”

Aha! Kali ini dia yang bertanya. Saya menjawab panjang lebar. Dari Jakarta, Jakarta Selatan. Kantor saya di sana, rumah di Bekasi. Tiap hari bolak-balik lewat jalanan macet. Bosan. Jarang-jarang bisa ke hutan wisata seperti di Batam ini.

Dia mendadak sumringah. “Dari Jakarta? Keluarga saya juga di Jakarta!”

Matanya membesar, senyum tersungging di bibirnya. Tanpa lupa menyemplungkan pakan arwana, dia cerita panjang lebar. Rumahnya di Pasar Minggu. Anaknya dua. Istrinya bidan. Sudah 7 tahun dia sendirian di Batam.

“Sendirian, Pak? Keluarga kenapa nggak diboyong ke sini saja?”

Matanya mulai sayu. “Yah, gak apa-apa lah. Anak saya ada yang sudah kuliah… Dia tahunya saya bisnis di Batam. Mereka nggak tau, saya kerja gini aja dari dulu… Nggak apa-apa pisah, asal anak saya bangga.”

Alisnya terangkat. “Coba Adek kalo jadi anak kuliah, memangnya bangga punya bapak pawang arwana?”

Image

Obrolan itu memanjang, melebar, ke pembicaraan tentang kebanggaan dan masa depan. Kalau kita biasa dengar tentang ‘anak yang membahagiakan orang tua’, Pak Sijay percaya sebaliknya.

“Saya sudah tua, nanti juga mati. Anak saya insyaAllah masih panjang umurnya. Dia yang butuh dibahagiakan, bukan saya.”

Bukan Jembatan Biasa

Image “Tempat itu biasa aja, nggak ada apa-apanya.”

Banyak traveler yang bilang begitu, dan saya selalu tidak percaya. Bagaimana mungkin sebuah tempat tak ada apa-apanya? Gurun punya pasir. Laut punya air. Jalan punya aspal, punya tanah, punya cerita tentang penggunanya. Bagi saya tiap tempat punya cerita. Tak ada yang pantas dilewatkan begitu saja.

******************************************************************

Jumat, 7 Juni 2013. Malam pertama di Batam, saya bersikeras mengunjungi Jembatan Barelang. Jembatan yang jadi ikon Batam. Ada 6 jembatan panjang yang menghubungkan pulau-pulau kecil, hingga yang terujung adalah Pulau Galang Baru. Jembatan 1 adalah yang paling ikonik, dengan tiang-tiang tinggi seperti Golden Gate di San Francisco.

“Nggak ada apa-apanya, itu jembatan biasa,” kata seorang wartawan media harian. Saya bersama 2 wartawan lain sedang ikut rombongan Kemenparekraf meliput agenda bisnis wisata di pulau tersebut. Saya tetap bersikeras. Kalau memang itu jembatan biasa, bagaimana bisa dia begitu ikonik?

Image

Sudah pukul 20.30 WIB begitu mobil sampai di Jembatan Barelang. Para penjaja makanan berderet di kiri-kanan. Ada mie ayam, sate padang, bakso, hingga kepiting dan kerang rebus. Para muda-mudi asyik pacaran di sisi luar jembatan. Ya, di sisi luarnya yang hanya selebar 1 meter. Pacaran di luar jembatan begitu, risikonya berabe. Saya mulai googling. Benar saja, hampir tiap tahun ada saja warga yang bunuh diri. Entah karena dimadu, bosan hidup, atau patah hati. Terakhir pada 7 Januari 2013, seorang istri membawa anaknya bunuh diri loncat dari jembatan ini. Suaminya selingkuh.

Image

Inilah tempat rekreasi utama warga Batam. Tak ada tempat hiburan, tak perlu keluar banyak uang, hanya melihat lampu-lampu dari kejauhan. Saat tahun baru hampir tiap meter ada orang pacaran. Nama Barelang adalah singkatan dari tiga pulau besar yakni Batam-Rempang-Galang.

BJ Habibie, waktu masih menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi, menggelontorkan Rp 400 M untuk pembangunan Barelang. Butuh waktu 6 tahun membuat 6 rangkai jembatan ini, dari 1992-1998. Tiap jembatan punya nama, diambil dari raja-raja Melayu-Riau yang pernah berkuasa abad 15-18.

Jembatan pertama yang mirip Golden Gate, bernama Jembatan Tengku Fisabilillah. Kemudian ada Jembatan Narasinga, Jembatan Ali Haji, Jembatan Sultan Zainal Abidin, Jembatan Tuanku Tambusai dan yang terakhir Jembatan Raja Kecil.

Barelang lebih dari sekadar jembatan antar pulau. Tiap pagi, siang, malam, hari kerja, akhir pekan, tahun baru, Barelang dijejali warga lokal. Pemerintah setempat bahkan pernah melarang kendaraan parkir di pinggir jembatan karena takut rubuh. Entahlah.

Image

Image

Begitulah sedikit cerita tentang Barelang. Masih mau bilang tempat ini tak ada apa-apanya?