Rumah Sepanjang Betang, Apa Maknanya?

Image

Saya tak habis pikir kenapa Suku Dayak mau membuat Rumah Betang. Konstruksinya tak main-main. Kayu belian (kayu besi Kalimantan) ditanam dan disusun sedemikian rupa hingga voila! Jadilah rumah sepanjang 180 meter dengan lebar 26 meter. Di bawah tangga paling ujung Rumah Betang, saya diam. Takjub.

Image

Tiap Suku Dayak punya Rumah Betang. Lingkupnya tak hanya di Kalimantan tapi juga Borneo, yang adalah bagian dari Malaysia. Membuat rumah kayu ini tak semena-mena tancap-paku-tancap-paku kemudian jadi begitu saja. Di dalamnya ada bilik-bilik yang berfungsi sebagai rumah.

Rumah Betang yang saya datangi beberapa waktu lalu adalah Rumah Betang Panjang Saham di Kecamatan Sengah Semila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ada 43 Kepala Keluarga yang menempatinya. Begini bentuknya.

Image

ImageImage

Image

Image

Saya dibuat takjub oleh konstruksi dan pondasi Rumah Betang yang katanya sudah bertahan ratusan tahun. Sedikit bertanya dengan pemilik rumah paling ujung, dia menjawab panjang lebar. Kira-kira begini.

“Kita punya rumah sepanjang ini bukan sebagai identitas. Ya memang banyak wisatawan luar yang ke sini dan taunya ini rumah Suku Dayak. Tapi kan sebenarnya bukan itu saja, filosofinya jauh lebih dalam…”

“Kami ini suku yang erat kekeluargaannya. Gotong-royong, kerjasama, keluarga yang paling penting. Dan orang asli seperti kami ini kan semakin lama semakin tergerus modernisasi. Kami nggak ingin berkeluarga tapi sedikit silaturahmi. Tembok memisahkan kami. Dengan begini kami lebih sering berkumpul, ya… Tidak individualis.”

Kata-kata itu meluncur dari mulut Pak Albertus, begitu dia akrab dipanggil. Cepat dan ngena.

“Rumah ini bukan pajangan. Kami nggak ingin anak-anak kami nanti gak peduli sama keluarganya.”

Image

Image

Image

Image

Advertisements

4 comments

  1. Suka banget ulasannya, mbak…
    Wowww banget dengan tradisi Dayak yang masih erat banget rasa kekeluargaannya, betul juga sih kalau dikatakan bahwa tembok adalah sebuah batas yang memisahkan manusia….

    1. Hihi ‘tembok’ itu bisa diartikan banyak hal. Mereka menganggap orang kota kayak kita sangat individualis, dan mereka berusaha tetap melestarikan tradisi dan makna kekeluargaan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s