Month: May 2013

Rumah Sepanjang Betang, Apa Maknanya?

Image

Saya tak habis pikir kenapa Suku Dayak mau membuat Rumah Betang. Konstruksinya tak main-main. Kayu belian (kayu besi Kalimantan) ditanam dan disusun sedemikian rupa hingga voila! Jadilah rumah sepanjang 180 meter dengan lebar 26 meter. Di bawah tangga paling ujung Rumah Betang, saya diam. Takjub.

Image

Tiap Suku Dayak punya Rumah Betang. Lingkupnya tak hanya di Kalimantan tapi juga Borneo, yang adalah bagian dari Malaysia. Membuat rumah kayu ini tak semena-mena tancap-paku-tancap-paku kemudian jadi begitu saja. Di dalamnya ada bilik-bilik yang berfungsi sebagai rumah.

Rumah Betang yang saya datangi beberapa waktu lalu adalah Rumah Betang Panjang Saham di Kecamatan Sengah Semila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ada 43 Kepala Keluarga yang menempatinya. Begini bentuknya.

Image

ImageImage

Image

Image

Saya dibuat takjub oleh konstruksi dan pondasi Rumah Betang yang katanya sudah bertahan ratusan tahun. Sedikit bertanya dengan pemilik rumah paling ujung, dia menjawab panjang lebar. Kira-kira begini.

“Kita punya rumah sepanjang ini bukan sebagai identitas. Ya memang banyak wisatawan luar yang ke sini dan taunya ini rumah Suku Dayak. Tapi kan sebenarnya bukan itu saja, filosofinya jauh lebih dalam…”

“Kami ini suku yang erat kekeluargaannya. Gotong-royong, kerjasama, keluarga yang paling penting. Dan orang asli seperti kami ini kan semakin lama semakin tergerus modernisasi. Kami nggak ingin berkeluarga tapi sedikit silaturahmi. Tembok memisahkan kami. Dengan begini kami lebih sering berkumpul, ya… Tidak individualis.”

Kata-kata itu meluncur dari mulut Pak Albertus, begitu dia akrab dipanggil. Cepat dan ngena.

“Rumah ini bukan pajangan. Kami nggak ingin anak-anak kami nanti gak peduli sama keluarganya.”

Image

Image

Image

Image

Advertisements

Di Desa Maima, Saya Jatuh Cinta

ImageEdensor. Betapa desa mungil di pedalaman Inggris itu dideskripsikan dengan sangat apik oleh Andrea Hirata. Saya adalah salah satu korbannya, terbuai dalam imajinasi tak berkesudahan tentang desa hijau berpagar puncak-puncak gunung.

ImageBerkunjung ke Edensor adalah mimpi yang muluk. Tapi tampaknya Tuhan tak tega membiarkan saya melamun berlarut-larut. Buktinya, Ia mempertemukan saya dengan Distrik Maima di pedalaman Papua. Tepatnya di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya.

Seperti cinta, Desa Maima saya temukan secara tidak sengaja. Seperti cinta pula, saya jatuh hati pada pandangan pertama.

ImageLanskap hijau membentang di depan mata. Berkontur. Bangunan-bangunan kayu sederhana tersebar di beberapa titik. Bendera Merah Putih berkibar diterpa sinar matahari. Mata saya memicing karena terik. Tapi semakin terik, semakin biru pula warna langitnya. Semakin warna biru dan hijau yang kontras itu tampak selaras di mata saya.

Jika boleh dideskripsikan dalam satu kata, ‘fotogenik’ adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Distrik Maima. Asal jepret di sudut mana pun, hasilnya pasti akan bagus. Mengingatkan saya akan gambar-gambar dalam kalender atau kartu pos, melambungkan imajinasi ke Eropa sana. Apakah lebih bagus dari ini? Atau mungkin tidak?

Image

Image

ImageBirunya langit Papua benar-benar tak terbantahkan, saya seperti berada di kerajaan di atas awan. Semilir angin Lembah Baliem membelai kulit dengan sejuknya. Ah, perlukah saya mendeskripsikannya terus-menerus?

Yang jelas, saya jatuh cinta. Gara-gara Distrik Maima, saya jadi percaya pada cinta pandangan pertama.

Image

Image