Suatu Pagi di Lewolein

Image

Suatu pagi di Lewolein, sebuah desa di pedalaman Pulau Lembata, anak-anak ini sedang asyik memungut sampah. Mereka melakukan ‘Sabtu Bersih’ di seantero desa pesisir itu.

Mereka mengangguk sumringah waktu saya tanya senang atau tidak. Waktu saya tanya alasan mereka membersihkan desa, seorang anak kurus, botak, dengan mata besar spontan menjawab:

“Bumi bisa lebih indah Kak… Kalo lebih bersih.”

******************************************************************

Bumi. Betapa planet yang ditumpangi 7 miliar manusia itu keluar dengan mudahnya dari mulut anak-anak ini. Mereka bahkan tak pernah keluar dari desanya sendiri.

Bumi bagi mereka adalah apa yang mereka lihat dengan mata kepala. Mereka tahu kalau bumi besar dan indah, tapi buta soal rusaknya bumi akibat sampah.

Oh, betapa damainya ketidaktahuan itu. Saat itu juga saya mensyukuri kepolosan anak-anak pedalaman yang tak pernah melihat dunia luar. Mereka bersih-bersih desa atas kemauan dan keinginan sendiri. Mereka tak mengkritik orang lain, tak berkoar ini-itu agar orang lain buang sampah pada tempatnya. Anak-anak ini sadar akan kebersihan dari lubuk hati yang paling dalam.

Suatu perubahan memang dimulai dari diri sendiri. Kalau tidak, kita terlalu sibuk dengan urusan orang lain.

Image

Image

Image

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s