‘Desa Paus’ Lamalera, dari Perspektif Saya

Image

Saya perlu cerita tentang Lamalera.

Sebelum berangkat ke Pulau Lembata, Lamalera adalah point of interest nomor satu dalam list saya. Apalagi bagi situs tempat saya bekerja, tradisi memburu paus yang populer itu mustahil kalau tidak ditulis. Nyatanya, hampir seminggu sejak kembali ke Jakarta, saya belum juga bercerita Lamalera. Desa itu membuat saya gamang.

**************************************************************

Desa Lamalera mungkin lebih terkenal dari pulau tempatnya bertengger: Lembata. Nama Lembata terdengar sayup-sayup di antara kemahsyuran TN Komodo dan Flores yang berada di provinsi yang sama. Dalam hal pariwisata di NTT, Lembata seperti bayi yang baru belajar merangkak. Tapi di bagian selatannya, tepatnya di Kecamatan Wulandoni, Desa Lamalera menggaung namanya hingga mancanegara.

Adalah tradisi berburu paus yang menarik turis datang ke Lamalera. Mulai Mei-September tiap tahun, tepat saat sperm whale migrasi dari perairan Australia menuju arah utara, para Lamafa (pemburu paus di Lamalera) siaga satu. Saat terlihat air menyembur dari kepala sperm whale, mereka naik peledang (perahu) sambil membawa tempuling (tombak).

Tradisi ini sudah berjalan puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Waktu saya bertanya kepada warga lokal, tak ada dari mereka yang tahu pasti.

**************************************************************

Saya datang ke Lamalera pada Minggu (20/1/2013), bersama 9 anggota tim survei lainnya yang ditunjuk Bupati Lembata. Kami mengemban misi seputar analisa potensi pariwisata setempat. Lamalera A dan Lamalera B (yang ternyata hanya singkatan dari Atas dan Bawah) berada di punggung bukit, tapi sama-sama terletak di pesisir pantai.

Dari sulitnya dan rawannya akses jalan menuju Lamalera, saya menyimpulkan ini adalah desa nelayan. Pinggir pantai dan jauh dari desa lain di atas bukit. Tapi apa yang saya temukan benar-benar di luar dugaan.

Rombongan kami disambut dengan sangat baik. Setelah menerka-nerka potensi wisata di sana (termasuk tenun dan beberapa barang peninggalan Portugis & China yang sampai sekarang dianggap sakral), tibalah waktu makan siang. Menu yang saya harapkan tak jauh dari ikan dan hasil olahan laut lainnya. Namanya juga desa nelayan.

Tapi apa yang tersaji di piring? Daging anjing, okelah. Mayoritas penduduk Lamalera menganut Kristen Katholik. Tapi selain itu, di piring lain, tersaji daging Orca.

Orca, si paus pembunuh berwarna putih-hitam itu. Orca si Free Willy.

Dahi saya mengerenyit. Saya melewati piring-piring saji, mengambil nasi kotak berisi ayam goreng.

Kejutan datang sesaat setelah makan. Dalam ruangan penyambutan, dipamerkan beberapa hasil kerajinan dan suvenir khas Lamalera. Ada kain tenun nan cantik (dan cukup mahal) bermotif paus dan peledang. Selain itu, ada gigi Orca seharga Rp 100.000 per buah. Ada gigi lumba-lumba seharga Rp 10.000 per buah. Ada asbak dari tulang paus seharga Rp 50.000 per buah. Ada minyak paus, 2 jenis yakni minyak otak dan minyak jantung, harganya Rp 50.000 per botol.

Oh, betapa mereka bergantung pada hewan raksasa yang dilindungi itu. Saya iseng bertanya pada salah seorang warga, mereka makan (dan mengolah) apa selama tidak musim paus?

“Yaa ikan-ikan kecil lah. Lumba-lumba, pari, ikan terbang…”

Saya kaget. Bagaimana bisa sebuah desa pesisir, jelas-jelas menghadap langsung laut lepas, tidak makan ikan yang ‘wajar’. Kerapu, tuna, atau apalah yang biasa ditangkap nelayan! ‘Ikan’ bagi mereka tak jauh dari paus, lumba-lumba, orca, ikan terbang..

Lamalera bukan desa nelayan. Di benak saya, itu desa pemburu.

**************************************************************

Fakta yang saya temukan setelahnya lebih mencengangkan. Seorang ahli biologi dan kelautan yang masuk dalam tim survei bilang, intensitas sperm whale yang lewat di perairan Lembata tidak lagi banyak. Hal itu di-iya-kan masyarakat setempat.

“Memang nggak sesering dulu, Kak. Berarti kami kurang doa…”

Kurang doa. Kemudian mereka pun memperbanyak doa.

Di perjalanan pulang, tour guide saya cerita. Beberapa tahun lalu WWF pernah datang, tapi diusir masyarakat setempat. Alasan kedatangan itu sederhana: menyelaraskan tradisi dengan upaya konservasi. Tapi tradisi itu terlalu melekat kuat. Saya ingat seorang penenun, wanita paruh baya, menjelaskan sambil membuat motif paus di kain tenunnya,

“Paus itu sumber rejeki dan kehidupan bagi kami ini.”

Bahkan sekarang, saat sperm whale sudah menjauh dari perairan Lembata, masyarakat masih bergantung pada paus. Padahal perairan Lembata dikaruniai beragam jenis ikan yang bisa dijadikan komoditas: kerapu macan dan tuna. Tanah Lembata subur bukan kepalang. Tanah gembur dihasilkan dari gunung berapi aktif Ile Lewotolok (1.319 mdpl). Jagung, umbi-umbian, kacang, kopi, cokelat, dan sayur-mayur tumpah ruah di hutan belantara.

**************************************************************

Desa Lamalera itu sendiri punya panorama cantik, bahkan dari teras tiap rumah yang bertengger di punggung bukit. Tenun khas motif paus dan peledang bisa jadi suvenir yang ciamik. Benda-benda peninggalan sejarah yang sakral bisa dijadikan objek wisata.

Saya sangat, sangat menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat Lamalera. Tapi mindset yang terfokus pada eksistensi paus tidak bisa melulu dibiarkan. Menghilangnya paus dari perairan Lembata perlahan akan memudarkan tradisi setempat. Mereka harus siap.

Ralat: mereka harus dipersiapkan untuk itu. Dibuka matanya soal potensi lain-lain yang membuat mereka tetap hidup,apalagi kalau masih bisa berkecimpung dalam dunia pariwisata.

Rasanya sulit melestarikan tradisi yang bertentangan dengan upaya konservasi. Mengutip pernyataan teman saya Teguh Wicaksono, “Tradisi lestari, paus jadi histori.”

ย 

*ps: foto-foto akan saya tambahkan, besok.

Advertisements

18 comments

  1. Ya Ampuun!!!

    Jadi ini toh..

    Miris banget! ‘Hidup mereka bergantung pada paus, lumba2, Dan ikan pari’ ๐Ÿ˜ฆ

    Kalo punah gimana tuh :(((

    Powered by Telkomsel BlackBerryยฎ

  2. halo mba sastri, salam kenal..
    wah tulisannya sangat menarik yah, apalagi soal Lamalera.. saya selalu tertarik kalo ada ulasan soal desa ini, hehehe..
    kebetulan saya dulu juga sempat mau membuat penelitian tentang Lamalera untuk keperluan skripsi, sudah sampai melakukan pra penelitian (kajian pustaka) hingga rencana untuk penelitian lapangan langsung kesana.. sayang judul saya itu ditolak oleh dosen pembimbing karena variablenya terlalu rumit, dan bisa jadi bakal lulus lama kalau saya tetep ngotot meneliti Lamalera, makanya terpaksa jadi ganti judul, huhuhu.. tapi meskipun demikian, alhamdulillah saya masih berkesempatan berkunjung kesana pertengahan tahun 2011 lalu.. ๐Ÿ™‚

    terkait tradisi di Lamalera ini, memang bisa dibilang sangat unik dan cukup rumit, bukan saja terkait masalah ‘budaya’ tetapi juga menyangkut hajat hidup dan mata pencaharian mereka..
    saya dulu juga sempat berpikiran sama, haruskan sebuah tradisi mengorbankan hal2 seperti ini (kelestarian paus)? ternyata jawabannya gak semudah yang saya bayangkan.. banyak faktor dan hal2 yang fundamental, yang (menurut saya) pada akhirnya tidak bisa kita langsung mengarahkan ancaman berkurangnya populasi paus karena tradisi mereka..

    saya masih menyimpan beberapa buku dan jurnal soal Lamalera, mungkin kalau mba sastri berminat bisa saja saya pinjamkan, hehehe..
    kebetulan waktu itu rencana penelitian saya juga berkaitan dengan upaya pembentukan zona konservasi di laut sawu yang ternyata sempat membuat resah warga Lamalera, dengan mengambil perbandingan yaitu komersialisai perburuan ikan paus yang dilakukan oleh Jepang, hehehe..

    intinya sih perkara tradisi Lamalera ini memang cukup rumit, sangat rumit malah.. saya hanya teringat perkataan seorang bapak waktu di Lamalera dulu ke saya, beliau bilang begini:
    “dik, tanah kami tidak sesubur di Jawa.. lautan adalah ladang kami, sama seperti sawah2 di Jawa.. kami berburu tidak asal berburu dik, sama seperti petani tidak asal bertani.. juga memikirkan bibit2 untuk masa panen berikutnya kan? kalau kami asal panen, lalu musim depan kami makan apa?” ๐Ÿ™‚

    1. Halo mas Ricco, salam kenal ๐Ÿ˜€

      Wah hebaaaat! Nggak nyangka ada yang mendalami soal tradisi Lamalera baru-baru ini, mengingat sudah berlangsung lama sekali…

      Benar sekali mas, ini saya hanya mampir 3 jam di Lamalera dan rasanya menusuk sekali. Saya angkat topi soal kearifan lokal di sini, saya juga berbincang dengan Lamafa kemudian menuliskannya di detikTravel. Justru karena itu saya merasa sayang sekali ๐Ÿ˜ฆ

      Dari penjelasan mas Ricco agaknya saya mengerti kalau masyarakat Lamalera hanya memanfaatkan alam dengan baik. Saya mengamini itu. Yang membuat getir adalah kemungkinan sperm whale yang menghilang dan tidak muncul lagi di perairan itu, seperti simbiosis kan, satu hilang yang lain juga hilang. Paus hilang, tradisi juga hilang. Itu yang saya kuatirkan ๐Ÿ˜ฆ

      Kemarin saya bersama ahli biologi dan kelautan dan dia bilang, Lembata itu subur sekali. Di desa sebelum Lamalera (dari arah Lewoleba) ladang jagung, cokelat, umbi, kopi subur sekali. Yang saya lihat juga, masyarakat Lamalera punya benda peninggalan dan kerajinan tenun yang ciamik. Untuk sementara ini saya berharap, mata mereka terbuka untuk potensi (termasuk potensi wisata) yang lebih banyak lagi. Agar tidak ketergantungan kepada paus atau hewan-hewan lain. Aminnnn ๐Ÿ™‚

      *ini balesannya lebih amat sangat panjang sekaliiii *mewek

  3. Merinding baca tentang Lamalera ini…. Tradisi yang entah bagaimana mengomentarinya…
    Dari segi konservasi jelas-jelas membunuh ekosistem laut Lamalera…tapi dari segi culture, ini udah mendarah daging ama masyarakat, terdengar sedikit berat apabila berusaha untuk menghapus budaya yang diwariskan nenek moyang menjadi tradisi baru seperti berburu ikan selain sperm whale, bercocok tanam…
    Merinding…. ๐Ÿ˜ฆ

    1. Memang Mas, sebenarnya setiap tradisi pasti selaras sama alam. Tapi dunia sudah berubah, ratusan tahun, hingga sekarang begini jadinya. Mereka seperti terperangkap di pedalaman, terkungkung mindset turun-temurun, nggak sadar kalo dunia di luar sana berubah. Sedih ya ๐Ÿ˜ฆ

  4. Selalu suka baca tulisan & bahasa mba Sastri.. ๐Ÿ™‚

    saya ndak bisa komentar banyak mengenai hal hal seperti ini. Mungkin mba Sastri pernah juga nonton film Dokumenter “The Cove” , Ric O’Barry tentang tradisi masyarakat Taiji, Jepang yang “memanen” ratusan lumba-lumba yang melintas di perairan teluk Taiji dalam musim migrasi lumba-lumba. Sama halnya Lamalera, Budaya (kiblat ratusan tahun lalu) vs Konservasi, miris..

  5. Mbak Sastri, topik ini menarik sekali..Saya tambahin ya biar seru ๐Ÿ˜€

    Walaupun mereka kaum pemburu, saya yakin mereka tidak seserakah seperti kebanyakan orang di ibukota. Apalagi caranya yang tradisional tidak memungkinkan mendapat hasil tangkapan yang masif.

    Mungkin juga kawasan timur Indonesiayang sifat masyarakatnya seperti ini, susah melihat peluang dan lepas dari kebiasaan lama. *Sori kalau yang ini saya sudah terpengaruh dengan mob papua yang ndablek2 ๐Ÿ˜€

    Sekali lagi hukum alamlah yang bicara, siapa yang kuat dia yang menang.

    1. Benar sekali mas ๐Ÿ˜€ saya sebenarnya peduli dengan konservasi, peduli sekali, tapi untuk masalah ini yang lebih urgent adalah eksistensi tradisi itu sendiri tampaknya. Karena soal perburuan paus, negara-negara lain sudah melakukannya dengan cara yang lebih ‘gahar’ lagi. ๐Ÿ™‚

  6. tradisi ini sudah mendarah daging..n d mana2 suatu kbudayaan tda mungkn n tdak akan d hilangkan,..sy prihatin skali apa bila daera pemburuan lamalera adalah daerah konserfasi, sedangkankehidupan masyarakat lamalera di sana hidup dengan hasil buruhan ikan paus yg bisa di tukar dengan beras,jagung atau lainnya (barter),..pertanyaan sy apa bisa menjamin kehidupanya masyarakat lamalera

    1. Benar sekali, saya juga berpikiran yang sama. Setidaknya masyarakat Lamalera tahu kalau banyak potensi yang bisa digali di pulau mereka. Warga Desa Lamalera pun bisa hidup makmur tanpa bergantung dari musim paus… ๐Ÿ™‚

  7. Mba Anin, bagaimana mungkin anda yang cuma 3 jam berkunjung ke lamalera bisa memahami mereka ? dan bagaimana anda semua yang kurang sependapat dengan lamalera cuma bisa bersedih, orang Lamalera tidak butuh rasa iba dan air mata anda semua, orang lamalera mempunyai konsesus sendiri dengan nenek moyang mereka di darat-nenek moyang di laut dan pencipta alam semesta. Ini cuma adalah ” cara hidup mereka ” , suka tidak suka anda harus hormati. Saya sudah hampir satu dasawarsa membuat documenter visual tentang mereka, anda semua bisa cari di di google, anda di Daily Mail UK dan News Corp group Australia…bate bate bate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s