Month: January 2013

Suatu Pagi di Lewolein

Image

Suatu pagi di Lewolein, sebuah desa di pedalaman Pulau Lembata, anak-anak ini sedang asyik memungut sampah. Mereka melakukan ‘Sabtu Bersih’ di seantero desa pesisir itu.

Mereka mengangguk sumringah waktu saya tanya senang atau tidak. Waktu saya tanya alasan mereka membersihkan desa, seorang anak kurus, botak, dengan mata besar spontan menjawab:

“Bumi bisa lebih indah Kak… Kalo lebih bersih.”

******************************************************************

Bumi. Betapa planet yang ditumpangi 7 miliar manusia itu keluar dengan mudahnya dari mulut anak-anak ini. Mereka bahkan tak pernah keluar dari desanya sendiri.

Bumi bagi mereka adalah apa yang mereka lihat dengan mata kepala. Mereka tahu kalau bumi besar dan indah, tapi buta soal rusaknya bumi akibat sampah.

Oh, betapa damainya ketidaktahuan itu. Saat itu juga saya mensyukuri kepolosan anak-anak pedalaman yang tak pernah melihat dunia luar. Mereka bersih-bersih desa atas kemauan dan keinginan sendiri. Mereka tak mengkritik orang lain, tak berkoar ini-itu agar orang lain buang sampah pada tempatnya. Anak-anak ini sadar akan kebersihan dari lubuk hati yang paling dalam.

Suatu perubahan memang dimulai dari diri sendiri. Kalau tidak, kita terlalu sibuk dengan urusan orang lain.

Image

Image

Image

Advertisements

‘Desa Paus’ Lamalera, dari Perspektif Saya

Image

Saya perlu cerita tentang Lamalera.

Sebelum berangkat ke Pulau Lembata, Lamalera adalah point of interest nomor satu dalam list saya. Apalagi bagi situs tempat saya bekerja, tradisi memburu paus yang populer itu mustahil kalau tidak ditulis. Nyatanya, hampir seminggu sejak kembali ke Jakarta, saya belum juga bercerita Lamalera. Desa itu membuat saya gamang.

**************************************************************

Desa Lamalera mungkin lebih terkenal dari pulau tempatnya bertengger: Lembata. Nama Lembata terdengar sayup-sayup di antara kemahsyuran TN Komodo dan Flores yang berada di provinsi yang sama. Dalam hal pariwisata di NTT, Lembata seperti bayi yang baru belajar merangkak. Tapi di bagian selatannya, tepatnya di Kecamatan Wulandoni, Desa Lamalera menggaung namanya hingga mancanegara.

Adalah tradisi berburu paus yang menarik turis datang ke Lamalera. Mulai Mei-September tiap tahun, tepat saat sperm whale migrasi dari perairan Australia menuju arah utara, para Lamafa (pemburu paus di Lamalera) siaga satu. Saat terlihat air menyembur dari kepala sperm whale, mereka naik peledang (perahu) sambil membawa tempuling (tombak).

Tradisi ini sudah berjalan puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Waktu saya bertanya kepada warga lokal, tak ada dari mereka yang tahu pasti.

**************************************************************

Saya datang ke Lamalera pada Minggu (20/1/2013), bersama 9 anggota tim survei lainnya yang ditunjuk Bupati Lembata. Kami mengemban misi seputar analisa potensi pariwisata setempat. Lamalera A dan Lamalera B (yang ternyata hanya singkatan dari Atas dan Bawah) berada di punggung bukit, tapi sama-sama terletak di pesisir pantai.

Dari sulitnya dan rawannya akses jalan menuju Lamalera, saya menyimpulkan ini adalah desa nelayan. Pinggir pantai dan jauh dari desa lain di atas bukit. Tapi apa yang saya temukan benar-benar di luar dugaan.

Rombongan kami disambut dengan sangat baik. Setelah menerka-nerka potensi wisata di sana (termasuk tenun dan beberapa barang peninggalan Portugis & China yang sampai sekarang dianggap sakral), tibalah waktu makan siang. Menu yang saya harapkan tak jauh dari ikan dan hasil olahan laut lainnya. Namanya juga desa nelayan.

Tapi apa yang tersaji di piring? Daging anjing, okelah. Mayoritas penduduk Lamalera menganut Kristen Katholik. Tapi selain itu, di piring lain, tersaji daging Orca.

Orca, si paus pembunuh berwarna putih-hitam itu. Orca si Free Willy.

Dahi saya mengerenyit. Saya melewati piring-piring saji, mengambil nasi kotak berisi ayam goreng.

Kejutan datang sesaat setelah makan. Dalam ruangan penyambutan, dipamerkan beberapa hasil kerajinan dan suvenir khas Lamalera. Ada kain tenun nan cantik (dan cukup mahal) bermotif paus dan peledang. Selain itu, ada gigi Orca seharga Rp 100.000 per buah. Ada gigi lumba-lumba seharga Rp 10.000 per buah. Ada asbak dari tulang paus seharga Rp 50.000 per buah. Ada minyak paus, 2 jenis yakni minyak otak dan minyak jantung, harganya Rp 50.000 per botol.

Oh, betapa mereka bergantung pada hewan raksasa yang dilindungi itu. Saya iseng bertanya pada salah seorang warga, mereka makan (dan mengolah) apa selama tidak musim paus?

“Yaa ikan-ikan kecil lah. Lumba-lumba, pari, ikan terbang…”

Saya kaget. Bagaimana bisa sebuah desa pesisir, jelas-jelas menghadap langsung laut lepas, tidak makan ikan yang ‘wajar’. Kerapu, tuna, atau apalah yang biasa ditangkap nelayan! ‘Ikan’ bagi mereka tak jauh dari paus, lumba-lumba, orca, ikan terbang..

Lamalera bukan desa nelayan. Di benak saya, itu desa pemburu.

**************************************************************

Fakta yang saya temukan setelahnya lebih mencengangkan. Seorang ahli biologi dan kelautan yang masuk dalam tim survei bilang, intensitas sperm whale yang lewat di perairan Lembata tidak lagi banyak. Hal itu di-iya-kan masyarakat setempat.

“Memang nggak sesering dulu, Kak. Berarti kami kurang doa…”

Kurang doa. Kemudian mereka pun memperbanyak doa.

Di perjalanan pulang, tour guide saya cerita. Beberapa tahun lalu WWF pernah datang, tapi diusir masyarakat setempat. Alasan kedatangan itu sederhana: menyelaraskan tradisi dengan upaya konservasi. Tapi tradisi itu terlalu melekat kuat. Saya ingat seorang penenun, wanita paruh baya, menjelaskan sambil membuat motif paus di kain tenunnya,

“Paus itu sumber rejeki dan kehidupan bagi kami ini.”

Bahkan sekarang, saat sperm whale sudah menjauh dari perairan Lembata, masyarakat masih bergantung pada paus. Padahal perairan Lembata dikaruniai beragam jenis ikan yang bisa dijadikan komoditas: kerapu macan dan tuna. Tanah Lembata subur bukan kepalang. Tanah gembur dihasilkan dari gunung berapi aktif Ile Lewotolok (1.319 mdpl). Jagung, umbi-umbian, kacang, kopi, cokelat, dan sayur-mayur tumpah ruah di hutan belantara.

**************************************************************

Desa Lamalera itu sendiri punya panorama cantik, bahkan dari teras tiap rumah yang bertengger di punggung bukit. Tenun khas motif paus dan peledang bisa jadi suvenir yang ciamik. Benda-benda peninggalan sejarah yang sakral bisa dijadikan objek wisata.

Saya sangat, sangat menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat Lamalera. Tapi mindset yang terfokus pada eksistensi paus tidak bisa melulu dibiarkan. Menghilangnya paus dari perairan Lembata perlahan akan memudarkan tradisi setempat. Mereka harus siap.

Ralat: mereka harus dipersiapkan untuk itu. Dibuka matanya soal potensi lain-lain yang membuat mereka tetap hidup,apalagi kalau masih bisa berkecimpung dalam dunia pariwisata.

Rasanya sulit melestarikan tradisi yang bertentangan dengan upaya konservasi. Mengutip pernyataan teman saya Teguh Wicaksono, “Tradisi lestari, paus jadi histori.”

Β 

*ps: foto-foto akan saya tambahkan, besok.