Syahdu di Tablanusu

Image

Seiring kita berjalan, ada kalanya kita ingin menetap. Mungkin karena tempatnya indah, atau memenuhi kriteria tempat tinggal masa depan. Seperti apa tempat itu bagi kalian?

Bagi saya, karena tempatnya syahdu.

Tablanusu, sebuah desa di pesisir Papua memenuhi kriteria itu. Letaknya di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Mungkin lebih sebagai tempat pelarian karena tinggal di sini agaknya ekstrim. Jauh dari peradaban.

Juli 2012, mobil yang saya tumpangi menjajal aspal. Kontur berganti jadi jalan berbatu, genangan air yang konon banyak ularnya, disusul acara menunggu keluarga babi yang sedang menyeberang jalan. Suguhan pertama kali itu adalah Teluk Hambali, yang dulu dikenal sebagai Teluk Humboldt.

Image

Jenderal besar Amerika, Douglas MacArthur hinggap di sini pada 1944. Bersama pasukan sekutu, ia menjajal wilayah utara Papua dan mendirikan markas untuk mematangkan ide pertahanan selama Perang Dunia II. Beberapa kali saya menemukan tanki-tanki minyak tak terurus peninggalan PD II. Sayang, padahal sejarah tergores kuat di situ.

Dari titik melihat Teluk Hambali, Desa Tablanusu tampak mungil. Letaknya persis di pesisir pantai. Desa ini terkenal karena seluruh permukaannya tertutup pebble, batu lonjong berpermukaan halus.

Tapi begitu sampai, percayalah, Tablanusu lebih dari itu.

Image

Ini adalah desa pantai tercantik yang pernah saya datangi. Semua kendaraan parkir di gapura desa. Jalan utama lebarnya sekitar 3 meter, dipenuhi pebble dan luar biasa bersih. Rumah-rumah (sederhana namun cantik) berderet di kanan kiri. Pagarnya dari kayu dengan tinggi selutut, beberapa dicat warna-warni. Bunga-bunga liar menghiasi halamannya. Bahkan Anggrek Papua yang katanya langka tumbuh subur di sini.

Image

So this is love at the first sight. Dengan hanya berdiri di gapura desa, saya sudah jatuh cinta.

Sekitar 100 meter dari gapura desa ada jembatan yang melintasi hilir sungai. Di hilir itu, perahu nelayan terparkir rapi. Kebetulan seorang warga sedang naik perahu, melintasi kolong jembatan itu. Somehow I feel Venice of the East.

Image

Kejutan tak sampai di situ. Beranjak ke bagian belakang desa (yang tak jauh jaraknya) ada tambak ikan dengan pemandangan mengagumkan. Lebih seperti danau mungil dengan latar bukit hijau. Rumah mungil di tengahnya jadi tempat beristirahat para penambak. Lucunya, hampir tak ada suara di situ. Hanya segelintir tawa anak-anak Papua yang berlarian di rumah-rumah dekat situ. Syahdu.

Image

Bagian pantai masih dipenuhi pebble. Bukan tempat yang pas untuk berenang memang, tapi deretan gazebo di bawah pohon kelapa jadi tempat bersantai yang rindang. Saya bisa saja menghabiskan seharian tiduran di sini sambil menyeruput air kelapa muda.

Image

Image

Image

Image

 

Most of all, in my opinion, Tablanusu is heaven. Seiring kita berjalan, ada kalanya kita ingin menetap. Untunglah saya pernah menetap di Tablanusu, walaupun cuma hitungan jam.

Advertisements

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s