What Did I Write?

Waktu itu kelas 3 SD. Bu Reni, sang wali kelas, bengong di depan meja saya. Matanya mengikuti alur bolpoin yang saya pegang. Tintanya mengalir lancar di atas kertas.

Sastri, kamu belum selesai?” tanyanya.

Saya menggeleng. Ini sudah lembar ketiga. Artinya, hampir 6 halaman saya habiskan untuk mengarang indah. Sebuah materi pelajaran Bahasa Indonesia yang paling saya suka.

Bel berbunyi, saya menyudahi karangan itu dengan coretan panjang di akhir halaman. Ala-ala penulis yang puas karyanya selesai tepat pada waktunya.

Apa yang saya tulis waktu itu?

Sebuah pengalaman tinggal di wilayah paling barat Indonesia. Provinsi Aceh, tepatnya di Rantau Kuala Simpang. Yang saya inginkan waktu itu cuma menulis sedetail mungkin. Bukan apa-apa, saya cuma takut lupa kalau nanti beranjak dewasa.

Nilai karangan indah itu tidak bagus-bagus amat. Standar, tapi saya puas. Puas telah menuliskan apa yang ada di pikiran. Puas karena berhasil berbagi cerita, mendeskripsi ruang. Puas karena Bu Reni membaca pengalaman saya.

*********************************************************************

Sebuah monitor dan keyboard menghiasi meja kerja saya kini. Soal profesi, bolehlah saya berbangga diri. Jurnalis travel, siapa yang tidak iri? Meliput beragam agenda di dalam dan luar negeri, lalu menuliskannya untuk dibaca orang lain.

Tapi apa yang saya tulis?

Bahkan sekarang pun saya tidak bisa jawab, sama sekali. Awal-awal bekerja, saya menulis sesuai passion dan bidang yang diminati. Budaya. Budaya adalah hal yang paling bikin saya gregetan. Saya suka menulis budaya.

Lalu sekarang? Hampir tak ada ruang untuk sebuah tulisan budaya. Tuntutan datang dari mana-mana. Harus bikin berita ini, menggarap berita itu. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sekarang, bukan saya yang menentukan akan menulis apa. Pembaca yang menentukan. Asal tahu saja, pembaca tak selamanya waras. Buktinya, mayoritas berita most popular di situs kami adalah seputar seks, cabul, konflik sosial. Rasanya pembaca lebih suka menggubris urusan orang daripada menambah ilmu di kepalanya.

Lupakanlah. Sekarang saya lebih banyak melayani tulisan pesanan. Tulisan pendek yang tak perlu banyak deskripsi dan narasi. Tulisan yang ‘straight to the point’, tanpa pikir panjang soal alur cerita.

Lupakanlah. Sekarang keinginan bercerita cuma bisa dilampiaskan lewat blog yang pun dihinggapi sarang laba-laba. Mengerjakan artikel pesanan itu sudah jadi rutinitas. Saat istirahat, ya waktunya dipakai istirahat. Blog pun terlupa., berdebu juga sekarang.

Lupakanlah. Saya rindu mengarang indah seperti di kelas 3 Sekolah Dasar.

Advertisements

7 comments

  1. ya terkadang tuntutan kehidupan utk bertahan hidup (bekerja) membuat waktu tak terasa begitu cepat berputar. tetapi klo kita coba liat sejarah, orang” purba yang rajin menulis (dibatu, digoa) mereka akan meninggalkan goresan sejarah dimasa sekarang, kitapun akan sama suatu saat menjadi “manusia purba” :D, mari kita ambil pelajaran dari mereka (sejarah) untuk membuat suatu karya yang akan menjadi sejarah disuatu saat nanti. hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s