Month: December 2012

Tentang Kesiapan Traveler-traveler Sekalian

Kita berjalan, kita memotret, kita menulis. Kita memperkenalkan keindahan dan potensi pariwisata Indonesia. Tapi saat traveler lain baru memulainya, apa kita sudah siap?

Saya tidak akan cerita banyak. Mari bicara soal film “5 cm” yang tengah booming sekarang. Saya belum tonton memang, pun baca bukunya. Tapi katanya (dan dari trailernya) film tentang persahabatan dan pendakian gunung ini memperlihatkan salah satu keindahan Indonesia.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan Mahameru yang disebut-sebut puncak abadi para Dewa. Saya lihat di timeline Twitter dan status Facebook, banyak orang yang baru lihat keindahan Taman Nasional dan Gunung Semeru itu.

Salah? Tentu tidak.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Sinisme dari para pejalan soal baru-tahu-menahu-gunung-semeru. Sarkasme soal banyak-pemandangan-yang-lebih-bagus-dari-itu. Banyak juga yang meremehkan penikmat “5 cm” yang ingin coba mendaki gunung.

“Naik gunung nggak segampang itu!”

“Nggak pake jins juga kaleeee”

“Ke Mahameru kayaknya nggak sampe longsor jatoh2 gitu deh”

Saya memang punya kekhawatiran khusus soal ini, terutama, karena banyak traveler yang belum concern akan lingkungan. Awalnya saya khawatir para ‘newbie’ ini tidak tahu-menahu soal dampak lingkungan. Tapi toh.. Traveler ‘kawakan’ belum tentu peduli juga.

Kita berjalan, kita memotret, kita menulis soal traveling. Kita ‘meracuni’ banyak orang untuk keluar dari zona nyaman dan melihat dunia. Come on, there’s always be the first time for everything. Tidak perlu kritik, sinis atau sarkas yang berlebih.

You just need to tell. Are you ready or not?

Image

 

Pendakian pertama saya. Gunung Merapi, Maret 2010. Photo taken by Salvaldou Santoso.

Syahdu di Tablanusu

Image

Seiring kita berjalan, ada kalanya kita ingin menetap. Mungkin karena tempatnya indah, atau memenuhi kriteria tempat tinggal masa depan. Seperti apa tempat itu bagi kalian?

Bagi saya, karena tempatnya syahdu.

Tablanusu, sebuah desa di pesisir Papua memenuhi kriteria itu. Letaknya di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Mungkin lebih sebagai tempat pelarian karena tinggal di sini agaknya ekstrim. Jauh dari peradaban.

Juli 2012, mobil yang saya tumpangi menjajal aspal. Kontur berganti jadi jalan berbatu, genangan air yang konon banyak ularnya, disusul acara menunggu keluarga babi yang sedang menyeberang jalan. Suguhan pertama kali itu adalah Teluk Hambali, yang dulu dikenal sebagai Teluk Humboldt.

Image

Jenderal besar Amerika, Douglas MacArthur hinggap di sini pada 1944. Bersama pasukan sekutu, ia menjajal wilayah utara Papua dan mendirikan markas untuk mematangkan ide pertahanan selama Perang Dunia II. Beberapa kali saya menemukan tanki-tanki minyak tak terurus peninggalan PD II. Sayang, padahal sejarah tergores kuat di situ.

Dari titik melihat Teluk Hambali, Desa Tablanusu tampak mungil. Letaknya persis di pesisir pantai. Desa ini terkenal karena seluruh permukaannya tertutup pebble, batu lonjong berpermukaan halus.

Tapi begitu sampai, percayalah, Tablanusu lebih dari itu.

Image

Ini adalah desa pantai tercantik yang pernah saya datangi. Semua kendaraan parkir di gapura desa. Jalan utama lebarnya sekitar 3 meter, dipenuhi pebble dan luar biasa bersih. Rumah-rumah (sederhana namun cantik) berderet di kanan kiri. Pagarnya dari kayu dengan tinggi selutut, beberapa dicat warna-warni. Bunga-bunga liar menghiasi halamannya. Bahkan Anggrek Papua yang katanya langka tumbuh subur di sini.

Image

So this is love at the first sight. Dengan hanya berdiri di gapura desa, saya sudah jatuh cinta.

Sekitar 100 meter dari gapura desa ada jembatan yang melintasi hilir sungai. Di hilir itu, perahu nelayan terparkir rapi. Kebetulan seorang warga sedang naik perahu, melintasi kolong jembatan itu. Somehow I feel Venice of the East.

Image

Kejutan tak sampai di situ. Beranjak ke bagian belakang desa (yang tak jauh jaraknya) ada tambak ikan dengan pemandangan mengagumkan. Lebih seperti danau mungil dengan latar bukit hijau. Rumah mungil di tengahnya jadi tempat beristirahat para penambak. Lucunya, hampir tak ada suara di situ. Hanya segelintir tawa anak-anak Papua yang berlarian di rumah-rumah dekat situ. Syahdu.

Image

Bagian pantai masih dipenuhi pebble. Bukan tempat yang pas untuk berenang memang, tapi deretan gazebo di bawah pohon kelapa jadi tempat bersantai yang rindang. Saya bisa saja menghabiskan seharian tiduran di sini sambil menyeruput air kelapa muda.

Image

Image

Image

Image

 

Most of all, in my opinion, Tablanusu is heaven. Seiring kita berjalan, ada kalanya kita ingin menetap. Untunglah saya pernah menetap di Tablanusu, walaupun cuma hitungan jam.

Kintamani: Sepenggal Kisah Tentang Sisi Spiritual Bali

Image

Saya pernah dengar soal Bali 1912, sebuah buku karya dokter muda asal Jerman, Gregor Krause. Judul buku itu mengacu pada tahun ia ditugaskan ke Pulau Dewata, tepat pada bulan Agustus.

Dalam buku itu diceritakan kecantikan Pulau Bali. Eksotisme alamnya, kekayaan budayanya, kemasygulan wanita-wanitanya yang ke manapun bertelanjang dada. Konon, pesona wanita Bali tak ada yang menyaingi. Waktu itu belum ada hiruk-pikuk dan kegiatan hedonis. Orang Eropa dan Amerika jauh-jauh datang untuk menikmati Bali sebagai oasis.

Bukan, bukan pantai yang kita bicarakan di sini. Deskripsi yang dibicarakan Krause adalah hasil pengamatan di daerah tempatnya tinggal: Kintamani, Kabupaten Bangli. Satu-satunya wilayah yang tidak dibatasi pantai. Sebuah pedalaman, dataran tinggi yang dirundung budaya nan kental.

***************************************************************

Saya menghirup hawa dingin Kabupaten Bangli bulan Oktober lalu. Malam itu, gemuruh angin melintasi Danau Batur. Menyapu dataran tinggi Kintamani beserta seluruh desanya. Bulan tak tampak sama sekali, begitu pun Gunung Batur yang punya kaldera besar itu. Malam itu, saya dirundung angin malam yang dinginnya menggigit tulang.

Tapi saat pagi, saya merasakan apa yang Jawaharlal Nehru deskripsikan soal Bali: “Morning of the World”. Saat matahari muncul dari sela-sela perbukitan, seisi dunia seperti terbuka. Kabut tipis menggantung di Danau Batur yang aduhai indahnya.

Image

Kintamani. Kawasan hutan yang rimbun, gunung merapi yang panas, udara sejuk dan danau biru. Elemen-elemen penting dalam tradisi spiritual ala Timur bisa ditemukan di sini. Kayu, api, tanah, udara dan air.

Bangli telah bangkit bahkan sebelum sinar matahari pertama menyentuh atmosfer bumi. Pagi buta, perahu nelayan melintas di danau. Menggubris burung-burung pelikan yang sedang asyik sarapan. Para wanita sudah hilir-mudik belanja. Mengenakan kebaya Bali, dengan rambut disanggul rapi. Di sebuah pura mungil pinggir jalan, seorang pria khusyuk berdoa. Di kepalanya bertengger Udeng, penutup kepala khas masyarakat setempat.

Saya di sini untuk Festival Danau Batur 2012 yang berlangsung selama 3 hari. Mengenal budaya Bali yang dulu asing, mendatangi tempat-tempat penuh tradisi. Di sini pula saya belajar soal sisi spiritual Bali. Sekarang saya mengerti, betapa Bali jadi pelarian manusia dari masalah duniawi. Dari zaman Perang Dunia I dan Charlie Chaplin, Julia Roberts dalam film Eat, Pray, Love, sampai saya sendiri.

Desa Kintamani itu sendiri, selama ratusan tahun menjadi simbol harmonisasi antara 3 agama. Masyarakat Hindu, Islam, dan keturunan konfusius China berbaur lewat sejarah peradaban dan campur tangan legenda. Setidaknya itulah yang dibilang I Wayan Mertha, Koordinator DMO Kintamani. “Seribu tahun lalu Raja Balingkang nikah sama putri keturunan China. Coba lihat jejaknya sekarang, di Pura Batur ada satu bagian yang jadi kelenteng,” katanya.

Benar saja, saya lihat sendiri satu bagian Pura Batur yang serba merah itu. Patung naga berdiri megah di kanan-kiri kelenteng. Bau dupa mendominasi tempat itu. Tulisan Mandarin dipajang besar-besar di pintu masuk.

Image

Ada sejuta cerita di balik tembok kokoh Pura Batur. Inilah pura kedua terbesar di Bali, sekaligus kedua tersakral setelah Pura Besakih. Pura Batur adalah satu-satunya yang punya pemangku anak-anak. Pemangku berarti pemimpin upacara.

“Jero Wacik dulu jadi pemangku kelas 1 SD, di sini. Bareng saya,” kata Jero Mangku Sumatera yang kebetulan sedang duduk-duduk di pelataran pura. Beberapa warga hilir mudik berdoa. Sebuah rutinitas masyarakat Bali dalam menjunjung hubungan dua arah antara manusia, Tuhan, dan alam sekitar. Sebuah kepercayaan yang tergabung apik dalam konsep Tri Hita Kirana.

Pada Festival Danau Batur 2012 saya belajar banyak hal soal spiritualitas. Setiap tradisi: bleganjur, gebogan, penjor, tarian, pakaian, juga kuliner, mengarah pada tradisi dan konsep Ketuhanan. Gebogan misalnya, seserahan yang biasa disajikan saat upacara dan ritual adat adalah hasil bumi sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan.

Image

Bali identik dengan tarian, musik, gamelan, rangkaian seni dan upacara yang tak henti-hentinya dipersembahkan oleh masyarakat setempat. Sekarang saya tahu sisi spiritual Bali yang dielu-elukan banyak orang itu.

Mengutip pernyataan Nehru, “Tuhan membawa semua tarian dan tradisi spiritual India ke Bali, meninggalkan benua kami dengan abu kremasi.”

Bali meninggalkan jejak spiritual yang lekat di hati.

What Did I Write?

Waktu itu kelas 3 SD. Bu Reni, sang wali kelas, bengong di depan meja saya. Matanya mengikuti alur bolpoin yang saya pegang. Tintanya mengalir lancar di atas kertas.

Sastri, kamu belum selesai?” tanyanya.

Saya menggeleng. Ini sudah lembar ketiga. Artinya, hampir 6 halaman saya habiskan untuk mengarang indah. Sebuah materi pelajaran Bahasa Indonesia yang paling saya suka.

Bel berbunyi, saya menyudahi karangan itu dengan coretan panjang di akhir halaman. Ala-ala penulis yang puas karyanya selesai tepat pada waktunya.

Apa yang saya tulis waktu itu?

Sebuah pengalaman tinggal di wilayah paling barat Indonesia. Provinsi Aceh, tepatnya di Rantau Kuala Simpang. Yang saya inginkan waktu itu cuma menulis sedetail mungkin. Bukan apa-apa, saya cuma takut lupa kalau nanti beranjak dewasa.

Nilai karangan indah itu tidak bagus-bagus amat. Standar, tapi saya puas. Puas telah menuliskan apa yang ada di pikiran. Puas karena berhasil berbagi cerita, mendeskripsi ruang. Puas karena Bu Reni membaca pengalaman saya.

*********************************************************************

Sebuah monitor dan keyboard menghiasi meja kerja saya kini. Soal profesi, bolehlah saya berbangga diri. Jurnalis travel, siapa yang tidak iri? Meliput beragam agenda di dalam dan luar negeri, lalu menuliskannya untuk dibaca orang lain.

Tapi apa yang saya tulis?

Bahkan sekarang pun saya tidak bisa jawab, sama sekali. Awal-awal bekerja, saya menulis sesuai passion dan bidang yang diminati. Budaya. Budaya adalah hal yang paling bikin saya gregetan. Saya suka menulis budaya.

Lalu sekarang? Hampir tak ada ruang untuk sebuah tulisan budaya. Tuntutan datang dari mana-mana. Harus bikin berita ini, menggarap berita itu. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sekarang, bukan saya yang menentukan akan menulis apa. Pembaca yang menentukan. Asal tahu saja, pembaca tak selamanya waras. Buktinya, mayoritas berita most popular di situs kami adalah seputar seks, cabul, konflik sosial. Rasanya pembaca lebih suka menggubris urusan orang daripada menambah ilmu di kepalanya.

Lupakanlah. Sekarang saya lebih banyak melayani tulisan pesanan. Tulisan pendek yang tak perlu banyak deskripsi dan narasi. Tulisan yang ‘straight to the point’, tanpa pikir panjang soal alur cerita.

Lupakanlah. Sekarang keinginan bercerita cuma bisa dilampiaskan lewat blog yang pun dihinggapi sarang laba-laba. Mengerjakan artikel pesanan itu sudah jadi rutinitas. Saat istirahat, ya waktunya dipakai istirahat. Blog pun terlupa., berdebu juga sekarang.

Lupakanlah. Saya rindu mengarang indah seperti di kelas 3 Sekolah Dasar.