Sang Pencerita

Ada beberapa pertanyaan yang mencerminkan arogansi. Seperti: “Sudah pernah ke mana saja?” “Terakhir backpacking ke mana?

Menjawab pertanyaan seperti itu seringkali menjadi beban. Beban untuk menjawab pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan yang bisa apa saja, mulai dari bahasa, mata uang, tata kota, kuliner, budaya…

Apa kamu bisa jawab?

*******************

Jumat, 6 Juli 2012. Sehari setelah saya pulang dari Saigon, Vietnam. Di penghujung hari kerja itu, saya berbagi kisah dengan Rifqi, adik yang sekarang duduk di kelas 2 SMP. Bagi saya Rifqi adalah ensiklopedi. IQ-nya lebih tinggi dari rata-rata, dan punya rasa ingin tahu yang luar biasa. Otaknya adalah ranah pengetahuan dunia, tak kenal klasifikasi ilmu, semua dilahapnya.

Saigon bagus nggak Mbak?” Rifqi bertanya.

Bagus, Dek. Rapi, bersih, enak buat jalan-jalan. Bangunannya minim lahan, hampir semua hotel menjulang tinggi ke atas tapi lebarnya nggak seberapa.. bla bla bla..” begitu cerita saya. Panjang lebar.

Kenapa perginya ke Saigon?

Abisnya Bangkok overrated, Hanoi juga sering banget didatengin. Ha Long Bay, yah yang pulau-pulau gitu mah bagusan sini.. Lumayanlah, sejarahnya kental. Dulu kan jadi salah satu basis Perang Vietnam.

Kenapa nggak ke Hue?

Saya melongo. Hue?

Iyaaa Hue. Itu lho kota kuno di tengah Vietnam. Kalo Hanoi kan di utara, Saigon di selatan. Nah persis di tengah-tengah. Dulu pernah jadi eks-ibukota Vietnam…

Saya masih melongo.

Di sana ada bekas gedung pemerintahan. Namanya Dai Noi. Bagus lho besar istananya. Mbak tau Terracotta Barrier kan? Nah katanya di Hue juga ada, tapi ya bentuknya tentara Vietnam! Dulu jaya banget tuh Kota Hue, pas masa pemerintahan Nguyen.”

Baru saat itu saya tahu tentang Nguyen. Tiga hari di Saigon, saya dan Mbak Nizar (partner traveling waktu itu) bertanya-tanya mengapa kata Nguyen sering digunakan di sana. Nguyen adalah nama dinasti yang jaya di awal abad ke-19, sekaligus jadi nama yang paling banyak tertera di akte kelahiran warga Vietnam.

Penjelasan singkat itu sukses membuat saya ingin ke Hue. Penjelasan singkat dari seorang anak 2 SMP, yang jarang sekali traveling, tapi tahu hampir semua hal tentang travel.

Sebagai pejalan, saya malu.

************************

Dialah sang pencerita. Jiwa pendongeng sudah meresap dalam dirinya. Dulu waktu masih kelas 2 SD, bacaannya adalah buku berwarna hijau setebal dan selebar ensiklopedi, judulnya “Arsitektur Islam”. Seringkali dia bergumam sendiri tentang bentuk kubah, mimbar, menara, tiang, ukiran, Moghul, Persia, Jawa. Telunjuknya menggambar di udara, mengayun seperti sedang memegang tongkat.

Tahun berikutnya, Rifqi mulai mengumpulkan seri buku panduan Lonely Planet. Setiap dia juara umum, atau menang lomba cerdas cermat, bolehlah pilih sendiri Lonely Planet yang dia mau. Buku itu terus dibaca seminggu, dua minggu lamanya. Hingga saat selesai, orang yang pertama didatanginya adalah Bapak.

Pak tahu nggak Pak, desa tertinggi di dunia itu ada di Tibet. Namanya …” dst, begitu ia cerita. Saya menjadi korban (beruntung) kedua setelah Bapak.

Mbak, tau nggak negara Swedia udah menetapkan kebebasan pers abad berapa?

Biasanya (dan seringkali) saya menggeleng tidak tahu.

Abad ke-17! Seribu tujuh ratus berapaaa gitu. Dia pelopor kebebasan pers di Eropa!

Ceritanya tak pernah habis. Semua aspek didongengnya, mulai dari sejarah sampai legenda. Bahwa Inggris yang sering diagung-agungkan traveler dulunya paling terpinggir. Bahwa dulu Polandia adalah yang terkuat seantero Eropa, bersaing dengan Kekaisaran Mongol yang dampaknya luar biasa. Bahwa orang Papua sebenarnya tidak satu ras dengan Indonesia yang mayoritas Mongoloid. Bahwa mayoritas etnis asli Rusia ada di Ukraina. Bahwa Granada berasal dari kata “Pomegranate”, buah yang melimpah ruah di salah satu kota Islam di Spanyol itu.

***************************

Rifqi tahu hal-hal di balik deskripsi meruang dari si pejalan. Bahkan yang sudah pernah menyambangi destinasi itu sendiri.

Pertanyaan macam “Sudah pernah ke mana saja?” “Terakhir backpacking ke mana?”ย hanya patut dijawab di permukaan. Pertanyaan yang menunjukkan arogansi si penanya, yang mungkin sudah pergi ke banyak tempat namun tak jelas, apakah dia mengetahui hal-hal di balik permukaan?

Saya mau mengenalkan Rifqi kepada siapa pun yang bertamu ke rumah. Sudah siap jawab pertanyaan dia? ๐Ÿ™‚

Advertisements

18 comments

  1. Hahaha.. Hidup Nguyen! ๐Ÿ™‚
    Btw, I hate that “udah kemana aja?” question, a lot! Dan yak, I agree, it’s kinda arogansi tersirat. Hahaha..
    Oh, salam kecup buat Rifqi.. ๐Ÿ™‚

  2. Wuaah, bertalenta dan cerdas.
    Klo ditanya sdh kemana aj: gw selalu ngejawabnya, belum kemana’. Tp insya allah sdh masuk dlm daftar impian.
    Klo ditanya lg terakhir kemana: biasanya gw ngejawab: ga kemana’, dkt’ aj.

    Dunia ini begitu luas utk didatangi, bahkan seumur hiduppun sprtinya ga mampu semua tmpt dijelajahi, jangankan ke luar negeri, keliling semua tmpt di indonesia aj begitu sulit, anggap aj 1 hari 1 pulau, dgn punya 17ribu pulau berarti minimal butuh 17.000 hari, nah butuh berapa tahun tuh, hehe..
    Nice share sas.

      1. iya, semakin kita banyak traveling / membaca artikel ttg travel, serta bertemu dgn teman” yg suka traveling entah disaat traveling atau kehidupan sehari” membuat kita semakin sadar dunia begitu luas, begitu besar ciptaanNya (alam semesat ini), dan kita menjadi terasa begitu kecil (merenung dan bersyukur). apalagi klo bertemu dan share dg petualang dr negeri seberang, jika dibandingkan (apple to apple) bener” terasa belum kemana’ alias masih newbie ๐Ÿ™‚

  3. Salah satu postingan tante Sastri yang paling gue suka.
    Dunia terlalu luas untuk disudutkan dengan pertanyaan “udah kemana aja?”. Apa yang kita ‘dapet’ seringkali malah nggak cukup dibahasakan, apalagi kalau hanya diwakili dgn “gue udah ke a,b,c…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s