Menyoal Sebuah Perjalanan

Tulisan berikut bernada sinis dan sarkas. Sorry for making this as a first post in my new blog. πŸ™‚

Tujuh bulan lalu, di hari pertama saya bekerja, sang Redpel bertanya, “Menurut kamu, traveling itu apa?”

Sedikit terbata saya menjawab, “Traveling itu.. Waktu seseorang melakukan perjalanan ke suatu tempat.”

“Apa ada batasan untuk traveling?” tanyanya.

“Tidak,” jawab saya. Berusaha berpikir secepat sang Redpel melontarkan pertanyaan. Lalu ia menjelaskan panjang lebar, secepat kilat, namun tak pernah sekali pun terhapus dari ingatan.

“Traveling bisa dilakukan siapa saja, perempuan, laki-laki, muda, tua, remaja. Siapa pun dari tingkat ekonomi rendah, menengah, tinggi. Yang single, pacaran, sudah punya keluarga. Terus, apa destinasi wisata itu punya batasan?”
“Tidak,” jawab saya lagi. Berusaha memikirkan destinasi di muka bumi yang tak mungkin dijelajahi.
“Dalam negeri, luar negeri, Asia, Afrika, Eropa, kutub utara. Gunung, pantai, laut, lembah, semuanya bisa dijelajahi. See? Kamu nggak akan kehabisan ide kalau menulis tentang traveling.”

*************

“Suka miris deh, orang tuh lebih suka ke luar negeri dibanding Indonesia. Padahal kan Indonesia bagus banget, punya semuanya. Nggak cinta Indonesia apa?”
Pernyataan (dan pertanyaan) itu terlontar dari mulut seorang pejalan. Di tubuhnya menempel kaos putih bertuliskan “I Love Indonesia”, dengan gambar hati warna merah di tengahnya, ditulis dalam lingua franca. Malam itu, sang pejalan sedang menjura di hadapan saya. Memaki udara, bersuara layaknya toa.
“Orang luar tuh lebih suka ke Indonesia. Kok kita malah pergi, harusnya kan kita yang ngerti negeri sendiri. Abisnya gitu sih, pemerintah nggak peduli sama pariwisata. Mereka cuma bisa ongkang-ongkang kaki doang!” amuknya.

Saya pun bicara pelan, sambil menyeruput teh panas yang mengepul di bawah bibir.Β “Jadi gimana, kemarin seru ke Manado-nya?”

“Iya, seru banget! Kotanya tuh enak banget, panas sih sebenernya. Terus gw ke sini… ke situ…” begitu jelasnya. Ia duduk dan menyeruput kopi hitam, memelankan suara, lantas memamerkan foto-foto perjalanannya selama di Manado.

Ya, semudah itu seorang traveler ditundukkan. Biarkan ia pamer foto, pamer cerita. Tak sampai lima menit, segala amukan itu terlupa. Ia pulang dengan sumringah. Berbalik badan dan melambai tangan. Tak ada tulisan “I Love Indonesia” di punggungnya.

Saya tak ingin angkat bicara soal destinasi perjalanan, pun terkait apa yang si pejalan tadi katakan. Saya mengamini apa yang dikatakan Redpel waktu itu, kalau destinasi wisata di muka bumi tak akan ada habisnya. Saya juga mengamini fakta kalau Indonesia itu sangat, sangat indah. Lagipula, apa sih yang diciptakan Tuhan sebagai tidak indah?

Inilah komentar sekaligus pertanyaan dari saya, untuk mereka yang mengkotak-kotakkan destinasi wisata layaknya memberi sekat-sekat yang membedakan para pejalan:
“Tujuannya apa?”

Apa tujuan Anda saat traveling? Menjelajah suatu tempat? Merasakan atmosfer baru? Ingin mandiri? Belajar kehidupan masyarakat setempat? Meningkatkan kesejahteraan penduduk? Menjadi relawan, ahli antropologi, melakukan penelitian?

Atau tujuan Anda adalah mendatangi tempat sebanyak mungkin, di dalam maupun luar negeri, untuk membuktikan bahwa Anda seorang nasionalis atau seorang traveler sejati? Mengambil foto sebanyak-banyaknya untuk bertengger di social media? Di DP BBM? Membanjiri linimasa dengan kicauan?

Merasa keren dan lebih nasionalis dari pejalan lain, yang lebih memilih luar negeri sebagai wujud proses belajar mereka? πŸ™‚

Menurut saya, pejalan yang baik tidak mempersoalkan destinasi. Setiap tempat punya karakter, baik itu di dalam maupun luar negeri. Selain itu, ia tak juga mempersoalkan cara perjalanan. Apalagi memberi sekat-sekat yang menghasilkan stratifikasi, alih-alih diferensiasi.

Traveling adalah cara. Cara untuk belajar, untuk menuju suatu tujuan. Saya yakin semua traveler punya tujuan baik. Hanya saja, gengsi itu sering datang tanpa permisi. Apa tujuan Anda traveling? πŸ™‚

Advertisements

54 comments

  1. “Selain itu, ia tak juga mempersoalkan cara perjalanan. Apalagi memberi sekat-sekat yang menghasilkan stratifikasi, alih-alih diferensiasi.” menarik sekali ini kak.
    Saya seringkali mendapati pertanyaan kepada diri mengenai “sudah backpacking kemana saja kamu?” oleh mereka yang mencap diri mereka sebagai budget traveler, since backpack erat kaitannya dengan budget traveler.
    Namun, pertanyaan yang lebih membumi dan mandiri seperti “kemarin habis jalan-jalan darimana?” tanpa melibati cara melainkan bicara tentang destinasi datang dari mereka yang masih menghargai traveling sebagai “cara untuk menghibur diri agar bisa lebih segar lagi untuk kembali beraktifitas”,
    Ah seolah ini memberi saya kesimpulan lain bahwa semakin sering Anda bertraveling tidak membuat Anda semakin baik dalam traveling. Gimana menurutmu kak? Hehe

    1. You got the point! Backpacker, selain jadi trend, juga sebagai pembuktian kalo seseorang bisa bertahan selama traveling dengan bujet seminim mungkin. Ada rasa bangga dari hasil perjuangan itu, makanya kebanyakan orang yang saklek dengan konsep backpacker malah membandingkan dirinya dengan effort orang lain πŸ™‚ sementara.. ya kamu tau tidak begitu kan? πŸ™‚

      “Semakin sering traveling belum tentu membuat traveler semakin dewasa. Tergantung apakah dia peka atau tidak.” itu pernah aku twit sebelumnya πŸ˜€

      1. Baca komen gres masih kurang mudeng, tapi abis di jelasin sama mba sastri dibawahnya jadi makin mudeng,, Ok2.. πŸ™‚ Nice sharing gals..

    2. wah.. kalo saya ditanya sudah pernah kemana saja, saya lebih memilih menjawab, baru kali ini saya pergi.. dan perkara selesai. Lawan bicara saya sudah pasti mutlak ‘menang’. Dan saya sudah tidak punya ‘beban’ untuk bercerita.. hehehehe…

  2. kalau saya ditanya “Apa tujuan Anda traveling?” , ya liburan sambil cari pengalaman dong, kerja jadi programmer stress abis!! tiap hari duduk 8 jam di depan kompie, hobi yang bisa ngilangin stress ya cuman traveling πŸ˜› *kok jadi curhat sih hahaha, nicer artikel πŸ˜€

  3. Pertama kali kenal tulisanya dari si “sinchan” farchan. Tulisanya masih aja tetep kontemplatif yak πŸ™‚

  4. aattjjiiyyyeeee,, tujuan saya trepeling adalah untuk menuntut ilmu, dari dipati ukur ke kelapa gading naik trepel :p

  5. bagus bngt nih postinganya..
    selama ini gw selalu bertanya apa tujuan gw traveling..? setiap gw punya jawaban atas pertanyaan gw sendiri pasti aja batin gw selalu mematahakan pertanyaan gw tersebut

  6. nice article. .gw juga ngerasa seperti itu. . sedikit share, buat gw traveling itu perspektif , gak ada yg pasti dan gak ada yg pas di hati. . setiap orang pnya pandangan berbeda, tapi itu kan yg membuat semua jadi lebih indah dan berwarna. . . :D…
    bahkan berangkat kerja aja bisa di jadiin traveling. . .seperti yg tertulis di hadis. . Innamal A’malu Bin Niyat

  7. Traveling bisa jadi sebuah prestasi berharga buat orang2 yang sangat berat meninggalkan rumah dan rutinitas. Dan itu juga kadang saya rasakan.

    Buat saya, hal yang paling berat untuk memulai sebuah perjalanan adalah saat2 harus ‘melempar tas keluar rumah’. Setelahnya, semuanya menjadi begitu menyenangkan.

    Beberapa kali saya pergi ke stasiun atau terminal, tanpa tujuan jelas. Cuma dua sisi mata uang yang pernah jadi saksi membuat undian alakadarnya untuk pembelian tiket yang masih tersedia. selanjutnya, percayakan nasib pada tiket … hahaha…

    Saya senang memperhatikan orang sibuk hilir mudik di stasiun atau bandara. Ada yang dijemput, ada yang di antar. Kadang juga saya ikut sok sibuk, melihat2 papan jadwal, atau mencari informasi. Padahal saya belum tahu mau kemana.

    Buat saya, hal yang paling menyenangkan dalam traveling adalah di saat saya tidak punya tujuan. Lalu tiba-tiba ada tuntutan untuk mencari sebuah tujuan. Tujuan yang sering menjadi ‘darurat’ buat saya adalah toilet umum dan warung kopi [:D]. Karena setelah membersihkan badan dan ‘isi perut’, setelahnya, ngopi, akan memberi begitu banyak inspirasi.

    Saya menghargai berbagai pandangan soal traveling. Semakin banyak ‘kotak’ rasanya semakin dinamis. Dan saya masih menikmati ketidak tahuan saya soal traveling.

    Nice Article.. Keep sharing yaaa… πŸ™‚

    1. Perlu diingat, tujuan dalam artikel saya bukan merujuk pada destinasi πŸ˜€ membaca komentar panjang di atas, saya rasa Anda sudah tahu tujuan Anda traveling.. Tidak harus dishare pun tak apa, boleh disimpan sendiri, saya juga menyimpan tujuan traveling dalam hati πŸ˜‰

      Terimakasih sudah mampir yaa πŸ˜€

  8. Chibiii.. *halah* ;D

    keren ih artikelnya. sarkas-nya bikin candu, kayak punya kk terajana.

    mo backpacker kek, mo flashpacker ataupun turis sekalian… sudah bagus mau keluar rumah dan melihat dunia syg besar ini. Dan gue selalu senang denger cerita perjalanan seseorang..kemanapun mereka pergi.

    pengalaman jalan2 gue juga masii seiprittt..dibawah amatir de. karna setiap pulang jalan2, ketemu orang2, pulangnya pasti ngerasa makin ga tau apa2. pawwah dah. ;D

    ah yg penting hepi! ^^

    1. Chibiiii >.< hihi

      Nah itu dia, menurutku gak ada bedanya yang udah banyak pengalaman dan yang belum banyak pengalaman. Yang ada, si traveler berpengalaman itu baiknya share informasi. Beberapa traveler handal (versi saya) lebih sering pamer dibanding berbagi informasi πŸ˜₯ *sedih*

      Go chibi go! Sepulang traveling, ngerasa makin gak tau apa-apa, tapi malah pengen belajar lebih banyak kan? Aku merasa hal yang sama kayak kamuu :*

  9. kalo menurut saya sih selama travelling justru bagian yang memuaskan adalah saat planning sama saat selama perjalanan, seringkali keduanya malah lebih seru daripada destinasinya. tujuan travelling bagiku selaen cari pengalaman juga buat bahan postingan blog biar laris blognya hahaha,,,nice posting sis

  10. Finally, komen !! #IMHO

    Buat saya tetep sperti yang saya komentarin di http://efenerr.wordpress.com/2012/07/20/drwb-diskusi..

    “Destinasi travelling itu emang mutlak pilihan dari si pelancong itu sendiri..Mau ke dalam negri atau luar negri..Tapi kalo saya pribadi, yang penting itu menyenangkan, bikin happy lah, nambah pengalaman n temen. Dimana ada waktu, duit, niat n mood, disitulah yang bakal saya jalanin :D”

    Hahahha…

    Untuk cara travelling, ya..menyesuaikan lah dengan keadaan haha..bisa diatur yang penting hepi! hohoho

    Tapi ya emang bener, sekesel-keselnya kita sama pariwisata indonesia dan antek-antek masalahnya, tetep aja kalo kita udah bisa travelling ke suatu tempat, bawa oleh-oleh cerita & foto-foto yang bagus juga udah seneng dan bikin nagih πŸ™‚

    Makasih mba sastri buat postingannya..jadi makin semangat! Buat nginjekin kaki di mana-mana .. πŸ˜€

    *cheers* *nyeruput teh*

  11. pada hakikatnya setiap manusia adalah pejalan ya mbak. sok filosofis nih, tapi, bukankah hidup sendiri itu adalah perjalanan?

    apa yg mau dibanggakan dari melakukan perjalanan, sementara manusia2 yang lain pun sebenarnya melakukan hal yang sama (walau tdk disadari)? *aih nyasar kemana-mana nih* haha

    nice post, sarkasnya mba sastri tu nyandu loh XD
    salam kenal πŸ™‚

    1. Hai mbak Kinkin, salam kenal! (Kinkin kan? Menguping obrolan banyak orang hihihi :p)

      Bener banget hidup adalah perjalanan. Tanpa henti-henti malah, kayak yang pernah dibilang Ari Lasso waktu masih gondrong dulu *halah*. Sayangnya konsep “perjalanan” dan “traveling” tampak berbeda. Padahal esensinya sama saja.. hehehe

      Trend juga yang bikin konsep “perjalanan” sebagai “bepergian”. Mengingat traveling baru gencar beberapa tahun belakangan πŸ™‚
      Aku setuju banget tentang konsep perjalanan kehidupan itu. Makasih komentarnyaa mbak Kinkin. Baiklah aku akan lebih sarkas lagi *evil laugh* XD XD

      1. huoh! aku malu, siapa yang ngobrolin akuuh XD
        jangan pake mba, aku masih keciiil hahaha

        bener kata bang farchan, mba sastri adalah pejalan garis keras! hokya! hahaha

  12. β€œTravel brings wisdom only to the wise. It renders the ignorant more ignorant than ever.” ― Joe Abercrombie.

    *aku mulai mengerti maksudnya… πŸ™‚ thanks sastri.

  13. Eh baru nemu blog-nya mba saastri langsung tertohok dengan tulisannya :lol

    Apapun tujuannya, yang penting jangan merusak destinasi kita ya mba. Misalnya gak buang sampah sembarangan hehe. Penyakit akut bangsa ini soalnya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s